Saturday, October 27, 2012

Jenis Bidang Usaha/Bisnis Pilihan

Tips Memilah & Memilih Bisnis Yang Efektif Dan Efisien
Secara garis besar jenis bidang usaha/bisnis ditentukan oleh beberapa kriteria, diantaranya :
  1. Jenis produk yang ditawarkan, apakah berupa barang niaga/perdagangan, atau berupa produk jasa.
  2. Sistem distribusinya (Marketing Plan), apakah Konvensional (umum), atau multi level (bertingkat)/network/jaringan/refferal.
  3. Media yang digunakan dalam pendistribusian produk, Offline dengan membuka toko/counter/office/small office secara biasa dan menunggu client, atau online yang biasanya memanfaatkan jalur internet.
  4. Sifat produknya, produk konsumsi, atau non-konsumsi.
Dalam perkembangannya, apapun jenis produk dan sifat produknya, digeneralisasi lagi menjadi 2 kriteria :
  1. Sistem distribusinya: Konvensional, dan network (jaringan) & referral (refferensi).
  2. Media yang digunakan: Offline, dan online.
Perkembangan berikutnya menunjukan bahwa sistem distribusi yang digunakan dan media yang digunakan akan saling melengkapi.
Sebagai contoh:
  • Pulsa online/Kios pulsa on-line
  • Toko buku online, Toko bunga online, Gallery Handycraft Online
  • Kursus online, Iklan on-line
  • Multi Level (MLM) & Viral Marketing, baik offline maupun online
  • Sistem penjualan produk/jasa secara referral (refferensi), baik secara offline maupun online.
  • Dan masih banyak contoh lainnya !
Cek Kenyataan 1
Banyak orang yang memilih bisnis jaringan/network & referral (refferensi) baik secara offline maupun online untuk mendapatkan atau menambah penghasilan dengan pertimbangan :
  • Tidak menggangu pekerjaan/usaha utama.
  • Bisa dikerjakan sambil melakukan aktivitas lain, dan bisa mengatur jam kerja sendiri.
  • Fleksibel, karena bisa dikerjakan kapanpun dan dimanapun. Selain itu, biasanya bisa digabungkan dengan bisnis/usaha yang telah dimiliki.
  • Tidak terlalu membutuhkan modal yang terlalu besar tapi bisa memiliki omzet yang besar.
  • Tingkat pengembalian modal/BEP yang (relatif) lebih singkat dibanding sistem konvensional/umum.
  • Penghasilan yang bersifat akumulatif.
  • Bisnis & penghasilan yang bisa diwariskan.
  • Dengan kecanggihan teknologi internet yang on-line, penyebaran informasi dalam memasarkan produk/jasa akan lebih cepat, efektif, dan efisien.
  • Dan lain-lain.
Cek Kenyataan 2
“ Banyak orang yang sukses dalam menjalani bisnis jaringan/network & referral (refferensi), baik offline maupun online. Tapi ternyata…….banyak  juga orang yang gagal ! Bahkan di tempat/perusahaan yang jelas-jelas bonafid dan menggunakan sistem Marketing Plan yang sangat sederhana serta tidak memerlukan modal yang besar sekalipun, masih banyak juga yang gagal !!! “
Penyebab Umum Terjadinya Kegagalan:
1.      Cepat bosan dan terlalu berorientasi pada hasil besar yang INSTANT. Hingga seringkali terlalu cepat berganti bidang bisnis/perusahaan yang dapat menghilangkan FOKUS BISNIS.
2.      Menyepelekan sistem dan tidak mengikuti cara kerja standar yang diberikan oleh perusahaan/pengelola. Karena merasa pintar, maunya pakai cara sendiri.
3.      Mudah menyerah saat mendapat rintangan/hambatan. Padahal inti kesuksesan semua bisnis adalah bertahan saat menerima hambatan/rintangan.
4.      Salah perhitungan, tidak pernah introspeksi/evaluasi menuju perbaikan/inovasi.
5. MALAS : M-A-L-A-S !

Tips Memilih Perusahaan/Pengelola Bisnis
1.      Pilih perusahaan/pengelola yang memiliki kejelasan hukum, kejelasan Marketing Plan, kejelasan sistem pembagian keuntungan/penghasilan, sistem backup yang teruji kredibilitasnya, dan fasilitas full support sistem.
2.      Pelajari Company Profile/Profil pengelola, pengalaman, visi & misi yang dimiliki. Jangan sekali-kali HANYA MELIHAT HASIL AKHIR YANG BESAR, tanpa Anda tahu apakah PROSES pencapaiannya terukur dan sebanding dengan apa yang harus dikorbankan!
3.      BACA & PELAJARI peraturan-peraturan, perjanjian-perjanjian, dan ATURAN MAIN yang dikeluarkan oleh perusahaan/pengelola (TERM & CONDITIONS).
Tips Memilih Bidang Usaha/Bisnis
1.      Tidak perlu takut mengambil keputusan dalam berbisnis yang RESIKO-nya telah Anda ketahui. Takut mengambil keputusan, berarti takut untuk berbisnis. Terlalu takut mengambil resiko dalam berbisnis, Anda tidak akan pernah sukses menjalani bisnis. Hargai diri Anda sesuai dengan potensi yang Anda miliki dan NILAI KEHIDUPAN yang ingin Anda miliki.
2.      Ukur resiko bisnis dari bidang pilihan Anda sesuai dengan MINAT, BAKAT, KEMAMPUAN (Modal&Keterampilan), dan SEBERAPA BESAR  PENGHASILAN serta NILAI KEHIDUPAN yang ingin Anda miliki.
3.      Modal kecil belum tentu resikonya kecil. Sebaliknya, modal besar belum tentu resikonya besar. Kemudahan sistem yang ditawarkan harus sebanding dengan hasil yang akan didapat.
4.      Setelah mengetahui resiko bisnisnya, Anda harus tahu POTENSI PASAR (MARKET) dari produk/jasa yang ditawarkan. Produk/jasa yang sedang tren, belum tentu membuat Anda sukses. Yang paling penting untuk dipertimbangkan adalah: Jumlah/persentase (%) kebutuhan pasar (baca: masyarakat), masa/lamanya waktu penggunaan produk barang/jasa tersebut, siapa saja yang menggunakan/membutuhkan (segmentasi), dan penyusutan NILAI produk barang/jasa yang ditawarkan dalam beberapa waktu ke depan.
5.      JANGAN PERNAH BERHENTI UNTUK BELAJAR DAN MEMPELAJARI HAL-HAL BARU YANG MENDUKUNG BIDANG BISNIS PILIHAN ANDA !
6.      Tidak perlu malu bertanya dan mencari tahu tentang informasi yang Anda butuhkan.
7.      Tidak perlu malu untuk meminta DUKUNGAN & BANTUAN dari pihak lain !
Semoga artikel ini berguna bagi kita semua.
Bila Anda sudah memiliki bidang bisnis pilihan, kami mengucapkan selamat berbisnis dan semoga SUKSES!

Ade  Supriyatna
http://www.wirausaha-online.com/2011/02/jenis-bidang-usaha-bisnis-pilihan/

13 Hal yang Dirahasiakan SDM

By Reader's Digest Magazine

1. "Setelah Anda menganggur lebih dari enam bulan, Anda akan dianggap sulit diterima bekerja. Kami berasumsi bahwa orang lain lebih berpeluang dari Anda, sehingga kami pun tidak mau berurusan dengan Anda." -Cynthia Shapiro, mantan eksekutif divisi SDM.

2. "Dalam hal mengenai mencari pekerjaan, orang yang Anda kenal akan sangat berpengaruh. Tidak peduli seberapa bagus CV Anda atau seberapa hebat pengalaman Anda, semuanya sangat bergantung pada koneksi." -Direktur SDM di fasilitas kesehatan.

3. "Jika Anda mencoba mendapatkan pekerjaan di sebuah perusahaan tertentu, sering kali hal terbaik untuk dilakukan adalah untuk menghindari bagian SDM sepenuhnya. Carilah seseorang di perusahaan tersebut yang Anda kenal, atau hubungi langsung manajer rekrutmen." -Shauna Moerke, administrator SDM di Alabama.

4. "Orang mengira seseorang akan membaca surat lamaran mereka. Saya belum pernah membaca satu pun surat lamaran dalam 11 tahun." -Direktur SDM di sebuah perusahaan jasa keuangan.

5. "Kami akan menilai Anda berdasarkan alamat email Anda. Terutama jika nama alamat email tersebut merupakan sesuatu yang tidak pantas seperti kinkyboots101@hotmail.com atau johnnylikestodrink@gmail.com." -Rich DeMatteo, konsultan rekrutmen di Philadelphia

6. "Jika Anda berusia 50-an atau 60-an tahun, jangan menuliskan tahun kelulusan Anda pada CV." -SDM profesional sebuah perusahaan menengah di North Carolina.

7. "Ada mitos bahwa CV harus terdiri dari satu halaman saja. Sehingga banyak orang yang mengirimkan resume mereka dalam format tulisan yang kecil. Tidak ada yang akan membacanya." -Direktur SDM di sebuah perusahaan jasa keuangan.

8. "Saya selalu membaca resume dari bawah ke atas Dan saya tidak punya masalah dengan resume yang terdiri dari dua halaman, tapi tiga halaman terlalu banyak." -Sharlyn Lauby, konsultan personalia di Florida.

9. "Kebanyakan dari kita menggunakan sistem pelacakan para pemohon yang memindai resume berdasarkan kata kuncinya. Rahasia agar resume Anda terjaring oleh sistem tersebut adalah dengan mengambil kata-kata kunci langsung dari deskripsi pekerjaan dan sertakan ke dalam resume. Semakin kata kunci yang cocok, maka akan semakin besar kemungkinan resume Anda akan terpilih dan dapat dilihat oleh petugas perekrutan. " -Chris Ferdinandi, profesional personalia di wilayah Boston.

10. "Resume tidak perlu diberi warna untuk terlihat menonjol. Ketika saya melihat sedikit warna, saya menyeringai. Dan ketika saya melihat begitu banyak warna, saya merasa ngeri. Saya akan membuangnya dan resume Anda pun tidak akan dilihat lagi sebagai sesuatu yang baik. Itu sebenarnya sedikit menyeramkan. " -Rich DeMatteo
11. "Sangat mengejutkan ketika orang  datang untuk wawancara dan berkata, 'Bisakah Anda ceritakan tentang pekerjaan di sini?" Yang benar saja. Ada yang namanya internet. Carilah di sana. " -Profesional personalia di New York City.

12. "Banyak manajer tidak ingin mempekerjakan orang yang memiliki anak kecil, dan mereka menggunakan segala macam trik untuk mengetahui hal itu, secara ilegal. Ada personalia yang menyimpan foto dua anak yang lucu di mejanya meskipun ia tidak memiliki anak (berharap calon karyawan akan bertanya tentang mereka). Sementara yang lain biasanya mengantar calon pegawainya berjalan menuju mobilnya untuk mencari tahu apakah mereka memiliki kursi mobil anak-anak." -Cynthia Shapiro

13. "Apakah akan lebih sulit untuk mendapatkan pekerjaan jika Anda gemuk? Tentu saja. Para manajer rekrutmen membuat penilaian dengan cepat berdasarkan stereotipe. Para manajer tersebut hanya mengikuti karakter George Clooney di film  “Up in the Air”, yang mengatakan 'Aku seorang yang melakukan stereotipe. Itu lebih cepat.'" -Suzanne Lucas, seorang mantan eksekutif personalia.


 http://id.she.yahoo.com/13-hal-yang-dirahasiakan-sdm.html

Wednesday, September 26, 2012

Peter Firmansyah: Lewat Petersaysdenim Menembus Dunia

Sewaktu masih duduk di bangku SMA, Peter Firmansyah, pria kelahiran Sumedang 4 Februari 1984, terbiasa mengubek-ubek tumpukan baju di pedagang kaki lima. Kini, ia adalah pemilik usaha yang memproduksi busana yang sudah diekspor ke beberapa negara.

Tak butuh waktu relatif lama. Semua itu mampu dicapai Peter hanya dalam waktu 1,5 tahun sejak ia membuka usahanya pada November 2008. Kini, jins, kaus, dan topi yang menggunakan merek Petersaysdenim, bahkan, dikenakan para personel kelompok musik di luar negeri.

Sejumlah kelompok musik itu seperti Of Mice & Man, We Shot The Moon, dan Before Their Eyes, dari Amerika Serikat, I am Committing A Sin, dan Silverstein dari Kanada, serta Not Called Jinx dari Jerman sudah mengenal produksi Peter. Para personel kelompok musik itu bertubi-tubi menyampaikan pujiannya dalam situs Petersaysdenim.

Pada situs-situs internet kelompok musik itu, label Petersaysdenim juga tercantum sebagai sponsor. Petersaysdenim pun bersanding dengan merek-merek kelas dunia yang menjadi sponsor, seperti Gibson, Fender, Peavey, dan Macbeth.

Peter memasang harga jins mulai Rp 385.000, topi mulai Rp 200.000, tas mulai Rp 235.000, dan kaus mulai Rp 200.000. Hasrat Peter terhadap busana bermutu tumbuh saat ia masih SMA. Peter yang lalu menjadi pegawai toko pada tahun 2003 kenal dengan banyak konsumennya dari kalangan berada dan sering kumpul-kumpul. Ia kerap melihat teman-temannya mengenakan busana mahal.

”Saya hanya bisa menahan keinginan punya baju bagus. Mereka juga sering ke kelab, mabuk, dan ngebut pakai mobil, tapi saya tidak ikutan. Lagi pula, duit dari mana,” ujarnya.

Peter melihat, mereka tampak bangga, bahkan sombong dengan baju, celana, dan sepatu yang mereka dipakai. Harga celana jins saja, misalnya, bisa Rp 3 juta. ”Perasaan bangga seperti itulah yang ingin saya munculkan kalau konsumen mengenakan busana produk saya,” ujarnya.

Peter kecil akrab dengan kemiskinan. Sewaktu masih kanak-kanak, perusahaan tempat ayahnya bekerja bangkrut sehingga ayahnya harus bekerja serabutan. Peter pun mengalami masa suram. Orangtuanya harus berutang untuk membeli makanan.

Pernah mereka tak mampu membeli beras sehingga keluarga Peter hanya bergantung pada belas kasihan kerabatnya. ”Waktu itu kondisi ekonomi keluarga sangat sulit. Saya masih duduk di bangku SMP Al Ma’soem, Kabupaten Bandung,” kata Peter.

Sewaktu masih SMA, Peter terbiasa pergi ke kawasan perdagangan pakaian di Cibadak, yang oleh warga Bandung di pelesetkan sebagai Cimol alias Cibadak Mall, Bandung. Di kawasan itu dia berupaya mendapatkan produk bermerek, tetapi murah. Cimol saat ini sudah tidak ada lagi. Dulu terkenal sebagai tempat menjajakan busana yang dijual dalam tumpukan.

Selepas SMA, ia melanjutkan pendidikan ke Universitas Widyatama, Bandung. Namun, biaya masuk perguruan tinggi dirasakan sangat berat, hingga Rp 5 juta. Uang itu pemberian kakeknya sebelum wafat. Tetapi, tak sampai sebulan Peter memutuskan keluar karena kekurangan biaya. Ia berselisih dengan orangtuanya—perselisihan yang sempat disesali Peter—karena sudah menghabiskan biaya besar.
Ia benar-benar memulai usahanya dari nol. Pendapatan selama menjadi pegawai toko disisihkan untuk mengumpulkan modal. Di sela-sela pekerjaannya, ia juga mengerjakan pesanan membuat busana. Dalam sebulan, Peter rata-rata membuat 100 potong jaket, sweter, atau kaus. Keuntungan yang diperoleh antara Rp 10.000- Rp 20.000 per potong.

”Gaji saya hanya sekitar Rp 1 juta per bulan, tetapi hasil dari pekerjaan sampingan bisa mencapai Rp 2 juta, he-he-he…,” kata Peter. Penghasilan sampingan itu ia dapatkan selama dua tahun waktu menjadi pegawai toko hingga 2005.

Pengalaman pahit juga pernah dialami Peter. Pada tahun 2008, misalnya, ia pernah ditipu temannya sendiri yang menyanggupi mengerjakan pesanan senilai Rp 14 juta. Pesanannya tak dikerjakan, sementara uang muka Rp 7 juta dibawa kabur. Pada 2007, Peter juga mengerjakan pesanan jins senilai Rp 30 juta, tetapi pemesan menolak membayar dengan alasan jins itu tak sesuai keinginannya.
”Akhirnya saya terpaksa nombok. Jins dijual murah daripada tidak jadi apa-apa. Tetapi, saya berusaha untuk tidak patah semangat,” ujarnya.
Belajar menjahit, memotong, dan membuat desain juga dilakukan sendiri. Sewaktu masih sekolah di SMA Negeri 1 Cicalengka, Kabupaten Bandung, Peter juga sempat belajar menyablon. Ia berprinsip, siapa pun yang tahu cara membuat pakaian bisa dijadikan guru.

”Saya banyak belajar sejak lima tahun lalu saat sering keliling ke toko, pabrik, atau penjahit,” katanya. Ia juga banyak bertanya cara mengirim produk ke luar negeri. Proses ekspor dipelajari sendiri dengan bertanya ke agen-agen pengiriman paket.

Sejak 2007, Peter sudah sanggup membiayai pendidikan tiga adiknya. Seorang di antaranya sudah lulus dari perguruan tinggi dan bekerja. Peter bertekad mendorong dua adiknya yang lain untuk menyelesaikan pendidikan jenjang sarjana. Ia, bahkan, bisa membelikan mobil untuk orangtuanya dan merenovasi rumah mereka di Jalan Padasuka, Bandung.

”Kerja keras dan doa orangtua, kedua faktor itulah yang mendorong saya bisa sukses. Saya memang ingin membuat senang orangtua,” katanya. Jika dananya sudah mencukupi, ia ingin orangtuanya juga bisa menunaikan ibadah haji.

Meski kuliahnya tak rampung, Peter kini sering mengisi seminar-seminar di kampus. Ia ingin memberikan semangat kepada mereka yang berniat membuka usaha. ”Mau anak kuli, buruh, atau petani, kalau punya keinginan dan bekerja keras, pasti ada jalan seperti saya menjalankan usaha ini,” ujarnya.

Merek Petersaysdenim berasal dari Peter Says Sorry, nama kelompok musik. Posisi Peter dalam kelompok musik itu sebagai vokalis. ”Saya sebenarnya bingung mencari nama. Ya, sudah karena saya menjual produk denim, nama mereknya jadi Petersaysdenim,” ujarnya tertawa.

Peter memanfaatkan fungsi jejaring sosial di internet, seperti Facebook, Twitter, dan surat elektronik untuk promosi dan berkomunikasi dengan pengguna Petersaysdenim. ”Juli nanti saya rencana mau ke Kanada untuk bisnis. Teman-teman musisi di sana mau ketemu,” katanya.

Akan tetapi, ajakan bertemu itu baru dipenuhi jika urusan bisnis selesai. Ajakan itu juga bukan main-main karena Peter diperbolehkan ikut berkeliling tur dengan bus khusus mereka. Personel kelompok musik lainnya menuturkan, jika sempat berkunjung ke Indonesia ia sangat ingin bertemu Peter. Ia melebarkan sayap bisnis untuk memperlihatkan eksistensi Petersaysdenim terhadap konsumen asing.

”Pokoknya, saya mau ’menjajah’ negara-negara lain. Saya ingin tunjukkan bahwa Indonesia, khususnya Bandung, punya produk berkualitas,” ujarnya.

Sumber: Kompas
Untuk kontak, buka situsnya di petersaysdenim

Taken From:
http://indonesiaproud.wordpress.com/2010/04/26/peter-firmansyah-lewat-petersaysdenim-menembus-dunia/