Showing posts with label Keuangan Pribadi. Show all posts
Showing posts with label Keuangan Pribadi. Show all posts

Wednesday, February 16, 2011

Layanan Private Banking yang Bonafid

"Layanan Private Banking yang Bonafid"

Layanan Private Banking yang Bonafid
Ibaratnya ruang tunggu penumpang pesawat di bandara, ada ruang tunggu biasa dan tersedia juga ruang tunggu VIP. Ruang tunggu biasa, umumya cukup terdiri dari deretan bangku yang berjejeran, itu saja. Ruang tunggu VIP, tentu saja berbeda. Ruangan yang sejuk, sofa-sofa yang empuk, televisi, makanan kecil nan lezat bahkan tersedia cocktail juga minuman anggur untuk pelepas dahaga, tambahan lagi  dilayani oleh para pamusaji yang cekatan. Semua kemewahan dan pelayanan bonafid ini diberikan untuk kenyamanan penggunanya. Walaupun sama-sama ruang tunggu tetapi keduanya berbeda, yang satu self service dan yang satu lagi fully service atau 1st clas service.

Bank pun sudah menerapkan konsep 1st Class Service ini kepada para nasabah utamanya, dengan kata lain nasabah dalam jumlah saldo rekening yang besar. Mereka adalah tipe nasabah yang tidak lagi berharap hanya sekedar bisa menyimpan uangnya di bank, tetapi juga membutuhkan pelayanan prioritas terhadap semua kebutuhan transaksi keuangannya. Terutama kebutuhan terhadap jasa pengelolaan harta kekayaan atau Wealth Management. Pengelolaan kekayaan menjadi isu yang semakin hari penting, sebab banyak orang berpenghasilan besar dan harta kekayaan yang besar, namun belum tahu bagaimana cara mengoptimalkannya. Kesibukan pekerjaan, terbatasnya waktu, minimnya pengetahuan terhadap produk-produk investasi dan sedikitnya pengalaman dalam berinvestasi, merupakan kendalanya akibatnya seringkali kesempatan mengembangkan harta kekayaan terlewati. Jangan kira punya uang banyak itu mudah, jika didiamkan saja kita bisa merugi, apalagi kalau salah mengelolanya. Bisa-bisa tambah rugi! Untuk nasabah dengan kebutuhan khusus ini Bank menyediakan pelayanan yang khusus pula yaitu Private Banking

Private banking adalah layanan jasa perbankan eksklusif yang memberikan berbagai fasilitas khusus untuk kemudahan dan kenyamanan bertransaksi perbankan sekaligus memberikan jasa konsultasi keuangan dan investasi bagi para nasabahnya. Dengan menjadi nasabah Private Banking, maka bukan saja segala urusan transaksi perbankan Anda dapat dilaksanakan lebih leluasa pada waktu, tempat serta kondisi yang semaksimal mungkin disesuaikan dengan kebutuhan Anda. Lebih dari itu Private Banking juga memberikan jasa perencanaan keuangan juga pengelolaan harta kekayaan secara pribadi.


Apa Bedanya Layanan Private Banking Ini Dibandingkan Layanan Bank Biasa?

Pada layanan bank biasa maka bank yang bersangkutan memberikan fasilitas layanan perbankan yang semua nasabah bisa memakainya, dengan demikian fasilitas ini berlaku masal sehingga seperti layaknya fasilitas umum terkadang Anda harus antri untuk menggunakannya atau menunggu sampai seorang customer service membantu Anda. Pada Private Banking maka para nasabahnya tidak perlu repot –repot antri karena diberikan jalur khusus bebas hambatan untuk melakukan transaksi perbankan, seperti disediakannya teller khusus yang hanya melayani nasabah private banking, ruang tunggu khusus yang eksklusif, tempat parkir khusus, bahkan jika Anda melakukan penarikan uang tunai dalam jumlah besar Anda bisa meminta Private Banking mengantarnya ke tempat Anda.

Ditinjau dari sisi produknya maka pada hakikatnya semua produk perbankan seperti tabungan, deposito, giro maupun produk pinjaman yang ada di Private Banking dengan yang ada di rekening biasa adalah sama saja hanya berbeda di pelayanannya dan negosiasinya. Namun disesuaikan dengan saldo rekening nasabah yang besar maka akses kepada produk-produk investasi juga semakin luas. Karena itu Private Banking juga menawarkan produk-produk investasi yang lebih variatif. Investasi orang-orang kaya, lebih tepatnya begitu.

Fasilitas Layanan Apa Saja Yang Diberikan Private Banking?

Sebagai nasabah yang diprioritaskan Anda berhak mendapat berbagai layanan & fasilitas khusus yang istimewa, antara lain :

- Untuk berbagai kebutuhan traksaksi perbankan, jasa perencana keuangan dan pengelolaan harta kekayaan, telah disedikan staf khusus yang biasa dikenal dengan para Personal Officer, Personal Banker atau Financial Advisor sebagai penasehat dan perencana keuangan.

- pembelian travel cek (TC) atau cek perjalanan tanpa biaya komisi.

- mendapatkan special rate untuk tabungan, deposito bahkan suku bunga pinjaman.

- Dapat melakukan transaksi jual beli mata uang asing berbagai negara dengan nilai kurs yang spesial (harga khusus).

- Bebas biaya administrasi untuk transaksi tertentu atau dengan harga khusus.

- Fasilitas pinjaman atau overdraft hingga 90% dari total deposito Anda.

- Mendapat tempat pelayanan eksklusif berupa ruangan pribadi, teller pribadi, tempat parkir pribadi yang dirancang secara lengkap dan mewah untuk kenyamanan Anda.

- Mendapat fasilitas kartu kredit Gold atau Platinum tanpa harus membayar iuran tahunan selama menjadi nasabah private banking.

- Memperoleh kartu ATM dengan maksimal penarikan maksimal Rp 10,000,000/hari, yang dapat digunakan juga sebagai diskon card di tempat-tempat eksklusif di seluruh dunia.


Siapa sajakah yang bisa menjadi nasabahnya?

Siapa saja bisa menjadi nasabah private banking asal memenuhi persyaratannya. Untuk bisa menjadi nasabahnya maka Anda harus membuka rekening dengan saldo minimal yang jumlahnya tertentu. Saldo minimal yang harus ada pada rekening private biasanya berkisar antara Rp 500 jt s/d Rp 2 milyar. Saldo minimal sebesar itu memang hanya bisa dipenuhi oleh segolongan orang saja. Karena itulah private banking memang sebenarnya ditujukan untuk orang–orang yang memiliki dana menganggur yang besar jumlahnya dan ingin agar dana tersebut lebih produktif. Dalam hal ini private banking dapat berperan sebagai pengelola dana tersebut.

Dalam Hal Apa Sajakah Fasilitas Jasa Konsultasi Keuangan Pada Private Banking dapat digunakan?

Jasa konsultasi keuangan yang dimaksud pada private banking adalah jasa perencanaan keuangan pribadi terutama dalam pengelolaan kekayaan dan investasi. Jadi bagi Anda yang memiliki dana menganggur dan ingin agar dana tersebut bertambah dan beranak pinak tanpa mau repot-repot, maka Anda dapat memberikan kuasa kepada private banking untuk bertindak sebagai pengelola investasi atau fund manager Anda. Sebagai fund manager maka Private banking akan menempatkan sejumlah dana yang Anda percayakan untuk ditempatkan ke produk-produk investasi seperti reksadana, saham, obligasi, SBI, asuransi, dan lain-lainnya sehingga menghasilkan keuntungan untuk Anda.

Dalam hal pengelolaan dana nasabah di rekening Private Banking, Private Banking juga bisa diminta berlaku seperti layaknya fund manager pribadi untuk Anda. Caranya adalah, Anda memberikan kuasa kepada fund manager untuk memutar uang Anda pada produk–produk investasi tertentu dan setiap bulannya Anda akan menikmati pembagian keuntungan sekian persen yang dijanjikan atau tergantung negosiasi. Tetapi jika Anda belum mempercayai kemampuan Private Banking untuk menempatkan dana Anda pada produk-produk investasi sesuai dengan instruksi dari Anda.



Lawan Sifat Konsumtif!

"Lawan Sifat Konsumtif!"

Lawan Sifat Konsumtif!
“Bisakah anda melalui satu hari saja tanpa membeli sesuatu?” Walaupun terdengar aneh, ternyata ada hari peringatan ”Buy Nothing Day” (Hari Tanpa Belanja). Diperingati pada hari Jum’at setelah perayaan “Thanks Giving” di Amerika, biasa disebut “Black Friday”. Ini adalah salah satu dari 10 hari belanja tersibuk sepanjang tahun di Amerika.

Peringatan ini dilansir pertama kali tahun 1992 di Vancouver oleh seniman Ted Dave dan di dukung oleh Adbuster Media Foundation. Tujuannya membahas isu-isu seputar konsumsi yang berlebihan. Pada hari itu orang seharusnya menghabiskan waktu bersama orang yang mereka cintai, bukan cuma menghabiskan uang bersama mereka. Jadi tidak berbelanja selama satu hari akan menggalang kekuatan bersama sebagai protes terhadap ide berbelanja membuat kita bahagia. Hari Tanpa Belanja percaya bahwa konsumtifisme tidak menciptakan kebahagiaan, malah menghancurkannya.

Bahaya Konsumsi Berlebihan

Kelihatannya naif sekali, bahwa segelintir orang sebuah gerakan kecil anti konsumtifisme dapat membawa perubahan besar bagi masyarakat. Konsumtifisme sendiri bisa berarti suatu kecenderungan atau dorongan untuk mengkonsumsi berbagai hal hanya demi memuaskan keinginan berbelanja saja bukan berdasarkan ada tidaknya kebutuhan. Pada dasarnya apa saja yang dilakukan secara berlebihan itu tidak baik. Termasuk dan terutama konsumtifisme yang efeknya sangat berbahaya, karena :

- Mendorong orang memiliki gaya hidup di luar kemampuan finansial mereka. Menghabiskan limit kartu kredit hanya untuk bersaing dengan “tetangga sebelah” menjadi sesuatu yang biasa. Jenis konsumen dengan tipe pembelanjaan seperti inilah yang menjadi tulang punggung perekonomian kita. Pembelanjaan ini berakar dari sebuah teori bahwa komsumsi barang dan jasa adalah cara terbaik mengindikasikan kemakmuran. Sayangnya teori ini justru menggerus tidak hanya individu yang melakukan pembelanjaaan tetapi perekonomian secara keseluruhan.

- Konsumen tidak lagi dianggap sebagai individu melainkan komoditas yang dikategorikan secara demografik. Akibatnya perasaan, keinginan dan berbagai ciri khas individu pun tererosi digantikan dengan keinginan kelompok dan trend yang berlaku. Contoh, lapar bukanlah memasak tetapi makanan cepat saji, haus bukan minum tetapi minuman dalam kemasan, komunikasi bukan lagi bicara tetapi facebook!

- Konsumtifisme memicu materialisme. Kecenderungan orang untuk mengidentifikasi kualitas dan kepuasan hidup dengan kepemilikan benda-benda bukannya kualitas hubungan interpersonal maupun intrapersonal.

Dilema Masyarakat Modern

Seorang teman berargumen bahwa konsumerisme tidak selalu buruk. ”Coba bayangkan dalam kondisi ekstrem orang tidak berbelanja sama sekali. Perusahaan banyak yang tutup, karyawan di PHK, pertumbuhan ekonomi minus.” Walaupun agak menyederhanakan masalah namun masuk akal juga. Konsumerisme sendiri memang tidak buruk, istilah ini mengacu kepada usaha-usaha (individu, instansi pemerintah, organisasi non pemerintah, organisasi non profit misalnya YLKI) untuk menjadi konsumen yang kritis yang tidak hanya memahami hak-haknya sebagai konsumen untuk mendapatkan barang dan jasa yang berkualitas sekaligus menyadari bahwa konsumsi yang berlebihan justru menyangkal hak-hak ini. Sebab konsumtifisme menyebabkan anda membayar lebih mahal dari yang seharusnya, mengutamakan gengsi daripada fungsi, membayar kredit padahal bisa tunai. Ini sangat berbeda dengan konsumsi yang wajar. Orang akan terus mengkonsumsi untuk hidup, makanya perekonomian akan terus bergerak. Namun pertumbuhan ekonomi harus berdasarkan kebutuhan dan kemampuan daya beli riil bukan yang artifisial dari pembiayaan untuk menopang hasrat konsumsi yang berlebihan.

Konsumtifisme menjadi sesuatu hal yang amat dilematis bagi kita. Seharusnya kemajuan peradaban, hadirnya barang-barang mewah, juga berbagai inovasi tehnologi menjadikan kita masyarakat yang lebih baik. Entah mengapa pada saat yang sama malah mendorong konsumsi sumber-sumber daya dan barang-barang dalam jumlah sangat besar jauh melebihi kebutuhan dasar kita. Dimanakah kita bisa menarik batas yang jelas antara kebutuhan dan keinginan?. Dari hari ke hari semakin sulit saja mengendalikan pengeluaran. Orang membeli mobil, pakaian, makanan bahkan menyekolahkan anak ke tempat yang sebenarnya tidak sanggup mereka bayar. Bahkan rela bekerja untuk pekerjaan yang mereka benci asalkan dapat memenuhi gaya hidup yang tidak mampu mereka miliki. 

Ironisnya distribusi konsumsi ini tidak merata, sebab di berbagai belahan bumi lainnya masih terlalu banyak orang yang bahkan untuk kebutuhan hidup untuk seperti sembako dan bahan bakar saja harus mengantri. Nah saat keinginan berbelanja memuncak, bolehlah sesekali anda mengingat mereka yang kekurangan ini.

Ambil Kendali

Konsumsi adalah kewajaran, kita semua membutuhkannya. Konsumtifisme-lah yang harus kita hindari. Jadi bukannya menghentikan pembelanjaan sama sekali (ini tidak mungkin!). Namun bagaimana mengendalikan pembelanjaan tersebut dengan berpatokan pada kebutuhan wajar. Ada 3 cara menghindari konsumtivisme yaitu :

1. Prioritas. Strategi penggunaan uang yang beberapa kali di bahas dalam rubrik ini adalah cara terbaik mengambil kendali keuangan anda. Mulai dari yang pertama menabung , membayar cicilan utang (jika ada), pembayaran asuransi sampai prioritas terakhir pengeluaran biaya hidup. Intinya penghasilan kita tidak boleh dihabiskan begitu saja untuk kebutuhan hidup saat ini, apalagi hanya untuk memenuhi hasrat belanja. Paling tidak harus ada yang dialokasikan untuk tujuan keuangan dana pendidikan anak dan persiapan masa pensiun.

2. Pengendalian. Setelah priroritas ditetapkan, carilah peluang agar bisa menghemat pengeluaran yang sudah direncanakan tadi. Misalnya strategi merubah apa yang anda beli. Barang import bermerek diganti dengan barang lokal dengan kualitas yang sama. Selain lebih ekonomis juga meningkatkan kecintaaan terhadap produk negeri sendiri pastinya membantu pengusaha lokal disini. Kemudian strategi mengubah aktifitas rekreasi. Tidak harus ke mal kan?

3. Pembayaran. Mengapa membayar lebih mahal dengan mencicil jika anda bisa membelinya lebih murah dengan tunai? Anda hanya berhutang jika terpaksa untuk membeli rumah dan kendaraan. Di luar itu bayar semua belanjaan anda secara tunai sesuai penghasilan yang tersisa.




Utamakan Wealth Style Dari Pada Life Style

"Utamakan wealth style dari pada life style"

Utamakan Wealth Style Dari Pada Life Style
Adalah merupakan sebuah naluri alamiah seseorang untuk mengaktualisasikan dirinya, sehingga terlihat lebih menonjol daripada orang lain, karena aktualisasi diri itu kaitannya juga dengan eksistensi pribadi seseorang di lingkungannya. Aktualisasi diri itu ada yang berupa rasa kebanggaan bila memiliki sebuah jabatan tinggi, ada yang senang bila selalu bisa berbagi ilmunya dengan orang lain, ada yang begitu bahagia apabila ia bisa membantu orang lain yang sedang kesusahan, dan ada pula orang yang senang untuk tampil “lebih” daripada orang lain, karena memang pada dasarnya dan kebanyakan manusia akan senang apabila ia terlihat kaya. Ditambah dengan derasnya arus informasi dan lingkungan pergaulan sekitar kita, membuat keinginan untuk selalu terlihat kaya alias mengedepankan life style inilah, yang seringkali membuat kita di kemudian hari menjadi pusing karena uang yang keluar dari kantong kita lebih besar daripada yang masuk.

Sikap mengedepankan life style ini bisa kita indikasikan sebagai pembelian barang–barang yang sebenarnya tidak terlalu penting bagi kita. sebagai contoh, para karyawan yang baru saja menerima bonus dari tempatnya bekerja seringkali menjadi gelap mata menghabiskan uang yang baru saja diterimanya demi gadget terbaru, padahal gadget lama mereka masih dalam kondisi baik. Yang lebih parah, meskipun tanggal pemberian bonus ataupun saatnya gajian masih jauh, orang bisa saja dengan mudah menggesekkan kartu kreditnya agar bisa memiliki dan memamerkan komputer tablet terbarunya yang canggih kepada teman–temannya, padahal sebenarnya gadget tersebut tidak terlalu diperlukannya untuk menunjang aktivitas kerjanya sehari–hari dan justru lebih banyak digunakan hanya untuk bermain game.

Sebenarnya sah–sah saja apabila seseorang membelanjakan uangnya untuk membeli barang–barang yang mahal, dengan catatan adalah barang–barang tersebut memang sangat dibutuhkan untuk menunjang pekerjaannya. Sebagai contoh seorang artis, pembicara publik, ataupun para marketer yang harus sering ketemu dengan klien, memang mau tidak mau harus selalu memberikan kesan baik sehingga memang mereka butuh pakaian yang bagus, walaupun yang bagus itu tidak harus selalu yang ber merk. Para internet marketer ataupun desaigner grafis yang mobile butuh gadget dengan spesifikasi tinggi, sehingga memang mereka perlu peralatan yang canggih untuk menunjang pekerjaannya.

Hal lain yang perlu diperhatikan apabila barang–barang tersebut memang anda butuhkan, pastikan ketika anda membelinya tidak menyebabkan ‘goyangan’ pada keuangan pribadi anda. Atau bila memang terpaksa anda membelinya secara kredit, maka total semua cicilan yang harus anda bayar tidak lebih dari 30 % dari pemasukan anda tiap bulannya. Hal ini perlu kita perhatikan agar ditengah keterbatasan penghasilan yang ada, uang hasil jerih payah kita bekerja tiap bulannya tidak hanya lewat begitu saja di rekening kita, tapi bisa kita nikmati juga untuk hal–hal lainnya di masa mendatang. Belum tentu pula orang yang berpenghasilan besar maka dia tetap bisa menikmati uang lebih dari penghasilannya, karena bisa jadi penghasilannya sebagian besar tersedot untuk membayar cicilan-cicilan hutangnya bila ia tidak mengatur dengan baik keuangannya.

Untuk itu, alih–alih mengedepankan life style, maka lebih baik kita mengembangkan wealth style kita. Secara sederhana pengertian wealth style adalah mengoptimalkan active maupun pasive income kita untuk dapat digunakan pada masa mendatang. Cukup merepotkan memang, karena life style adalah kita nikmati saat ini, sementara wealth style kita nikmati di kemudian hari. Caranya adalah ketika menerima penghasilan, pastikan penghasilan tersebut sudah disisihkan paling tidak 10 % untuk diinvestasikan. Jangan memotong uang untuk diinvestasikan itu belakangan, karena kalau mengandalkan sisanya maka seringkali diakhir bulan penghasilan yang ada sudah tidak bersisa lagi. 

Dengan dana yang tidak terlalu besar, ada instrumen investasi yang bisa dipilihkarena dijual secara ritel dengan harga cukup relatif terjangkau seperti reksadana ataupun emas dalam bobot kecil, yang imbal hasilnya masih lebih bagus daripada produk tabungan bila diinvestasikan dalam jangka panjang. Andapun bisa memberi nilai tambah pada aset yang sudah ada miliki agar memberikan arus kas masuk juga. Contohnya bila memiliki mobil yang sering nganggur dirumah karena anda lebih senang ke kantor menggunakan motor, maka tidak ada salahnya mobil tersebut anda sewakan ke orang-orang, sehingga bisa mengurangi biaya cicilan yang anda bayarkan tiap bulannya. Daripada membuat kolam renang ataupun fitness center pribadi di rumah anda, kenapa tidak dana yang ada digunakan untuk memodifikasi rumah anda menjadi tempat kos yang bisa disewakan. Begitu pula dengan pendidikan, merupakan salah satu bentuk investasi yang paling baik. Walaupun bukan jaminan, orang dengan pendidikan yang lebih tinggi dan lebih baik maka akan mendapatkan kesempatan kerja dan kedudukan yang lebih baik, serta pada akhirnya akan mendapat penghasilan yang lebih baik pula daripada yang pendidikannya rata–rata. Jadi semisal anda mendapatkan rejeki uang 50 juta, maka silahkan pilih apakah hendak digunakan untuk mengganti motor bebek yang selama ini digunakan ke kantor menjadi sebuah motor sport, ataukah untuk kuliah ke jenjang yang lebih tinggi lagi agar mendapatkan posisi kerja yang lebih baik lagi.

Selamat mengelola keuangan anda!