Wednesday, February 13, 2013

Jika Bisnis Tidak Sesuai Karakter

Ghiboo.com - Bisnis akan bisa berhasil jika sesuai dengan passion dan karakter seseorang. Ada beberapa risiko jika jenis bisnis yang dipilih tidak sesuai dengan karakter utama Anda.
1. Perhatian dan kontribusi tidak maksimal karena kurang menikmati kurang dan antusias.
2. Hasil tidak maksimal walaupun sudah berusaha karena pendekatan yang digunakan tidak sesuai dengan karakter yang dimiliki dan diperlukan.
3. Stres bisa timbul jika pelaku bisnis merasa gagal atau frustrasi sehingga akhirnya bisnis tidak berlanjut.
4. Jika bisnis dilakukan tidak sendiri (bermitra dengan orang lain), maka dapat mengakibatkan kurang baiknya sinergi pengambilan keputusan.
5. Apabila Anda salah mengambil pendekatan dan keputusan, maka bisnis akan berjalan lambat, dan tidak sesuai target

(Majalah Goodhousekeeping edisi Agustus 2012)

Sumber:  http://id.she.yahoo.com/jika-bisnis-tidak-sesuai-karakter-083000446.html

Jejak Kisah : Eka Tjipta Widjaja (Pemilik Sinar Mas Grup)

"Ia membantu ayahnya menjajakan produk toko dengan cara door to door selling.
Setelah lulus SD, karena terbentur masalah ekonomi, sehingga ia tidak bisa melanjutkan sekolah.
Ia pun berjualan keliling kota Makasar menjajakan kembang gula dan biskuit."

Eka Tjipta Widjaya, pendiri Sinar Mas Grup, saat ini termasuk 3 besar orang terkaya Indonesia versi majalah Globe Asia 2008. Kabarnya, total kekayaannya ± USD 3,8 Milyar.

Nama aslinya adalah Oei Ek Tjhong.
Lahir 3 Oktober 1923.
Keluarganya hidup dalam kemiskinan.
Bersama ibunya, ia pindah ke Makassar pada tahun 1932, saat usianya 9 tahun.
Di Makassar, ia membantu ayahnya yang telah pindah lebih dahulu, dan telah memiliki toko kecil.
Ia membantu ayahnya menjajakan produk toko dengan cara door to door selling.
Setelah lulus SD, karena terbentur masalah ekonomi, sehingga ia tidak bisa melanjutkan sekolah.
Ia pun berjualan keliling kota Makasar menjajakan kembang gula dan biskuit.
Dengan mengendarai sepeda, ia keliling kota Makasar menjajakan door to door permen, biscuit, dan aneka barang dagangan toko ayahnya.
Dengan ketekunannya, usahanya mulai menunjukkan hasil.

Saat usianya 15 tahu, Eka mencari pemasok kembang gula dan biscuit dengan mengendarai sepedanya.
Ia harus melewati hutan-hutan lebat, dengan kondisi jalanan yang belum seperti sekarang ini.
Kebanyakan pemasok tidak mempercayainya.
Umumnya mereka meminta pembayaran di muka, sebelum barang dapat dibawa pulang oleh Eka.

Ia terus mencari cara untuk dapat berdagang lebih banyak lagi, untuk membantu perekonomian keluarganya.
Tetap optimis, dan pantang menyerah.
Ijasah SD nya pun dijaminkannya, untuk mendapatkan kepercayaan pemasok kepadanya.
Walaupun tidak mendapatkan banyak pasokan, tetapi inilah langkah awal kesuksesan menurutnya.

Sempat pula ia berdagang besi-besi bekas, terigu, semen, dan gula.
Ia juga pernah bekerja sebagai pemborong rumah kuburan.
Pernah juga merintis bisnis minyak kelapa, berdagang kopra (bahan baku minyak kelapa), buah pala, dan lain sebagainya.

Saat umur 37 tahun, Eka pindah ke Surabaya.
Dengan segala optimisme, kerja keras, dan tantangan, akhirnya usaha yang dijalaninya mulai menghasilkan sukses besar.
Eka juga mempunyai kebun kopi dan kebun karet di Jember.
Pernah ia merintis usaha penggilingan padi di Ciluas, Serang, Banten, yang kemudian dijual kepada PKI karena usahanya merugi.
Awalnya Sinar Mas, merupakan CV.
Perusahaan ini melakukan ekspor hasil bumi dan impor tekstil di berbagai kota di Indonesia.
Usahanya kini telah melebar ke bisnis keuangan, bubur kertas (pulp), kertas, agrobisnis, serta perumahan / real estate.

Eka tidak lupa untuk berbuat sosial.
Ia mendirikan Yayasan Eka Tjipta Foundation.

Sumber: http://www.theprofessional.biz/article/16/

Friday, January 4, 2013

hindari 10 perkataan ini dalam menjalani kehidupan

Setidaknya ada 10 kalimat yang memiliki dampak cukup unik pada motivasi hidup. Saya tidak berani berkata “harus menghindari” kalimat-kalimat ini.. Saya hanya bisa “mewaspadainya” sebelum kalimat-kalimat itu menyusun kekuatannya dan mulai menjadi jangkar dalam hidup saya

1. Saya tidak mungkin melakukannya
Hmm… saya tidak perlu mengkerdilkan diri dan kemampuan saya untuk berkata seperti itu. Saya percaya, sebagai ciptaan yang paling sempurna, ada kekuatan luar biasa yang telah diturunkan langsung dari atas ‘sono’ .


2. Saya tidak punya bakat
Bakat? talenta? yup.. saya akui, “Pintar memang bisa dipelajari, tetapi “bintang” adalah dilahirkan“. Ada beberapa orang yang dianugerahi talenta luar biasa. Tetapi, hal ini bukan berarti orang yang lainnya tidak mempunyai talenta apa pun, kan? Saya sering melihat bagaimana orang-orang bisa berhasil walau hanya berbekal satu atau dua talenta saja. Sebaliknya saya juga sering melihat banyak orang gagal dan terbuang walau sebenarnya multitalenta.
Sikap, perilaku, dan perkataan justru lebih menentukan bagaimana seseorang bisa dihargai dan diterima oleh lingkungannya. Saya sendiri lebih menghargai, mendukung, bahkan memprioritaskan “orang-orang biasa” yang berperilaku santun, tekun, dan lemah lembut, daripada mereka yang berbakat luar biasa tetapi memiliki sikap dan perkataan yang kasar atau tidak mengenakkan.. (I know it is ridiculous, but that’s the fact.. ; ) )
Hmmm.. anyway, “bakat” sendiri bukan sebuah hal yang statis. Bakat “ada” karena apa yang biasa dilihat, didengar, dirasakan.. ini proses selama bertahun-tahun. Seorang anak yang dilahirkan dari keluarga seniman.. karena terbiasa mendengarkan nyanyian ibunya sejak kecil, karena terbiasa melihat bapaknya menggambar, saya yakin, ketika dewasa ia akan mewarisi bakat seni orang tuanya (walau belum tentu menyukainya). Demikian juga anak-anak lain yang dibesarkan dari keluarga bisnisman, ilmuwan, dan sebagainya. Sekalipun hal ini masih menjadi perdebatan di kalangan psikolog, tetapi saya boleh percaya bahwa manusia punya kuasa untuk menciptakan “bakat”!


3. Saya cuma lulusan SD
Kata “SD” pada kalimat di atas boleh diganti dengan “SMP”, “Kejar Paket A”, “TK”, atau apalah.. Yang jelas, pendidikan bukan penentu utama keberhasilan seseorang. Memang, mereka yang berpendidikan tinggi akan lebih berpeluang berhasil dari pada yang berpendidikan rendah (maaf). Tetapi bukan berarti lulusan SD tidak bisa berhasil. Saya sering melihat bagaimana sebuah perusahaan yang mayoritas karyawannya sarjana, tetapi ternyata pemiliknya hanya lulusan SD. Anda juga bisa membaca salah satu cerita konyol mengenai hal ini di artikel Email Anak SMP. Bahkan, 6 dari 10 Pemuda Pengubah Dunia yang saya tulis beberapa waktu lalu itu juga tidak pernah lulus kuliah!
So, what? Saya akan berusaha untuk tidak menyalahkan pendidikan sebagai topeng kemalasan dan kebodohan saya. Jika tidak tahu, ya belajar.. simple kan?


4. Lingkungan saya tidak mendukung
Banyak sekali orang-orang hebat lahir dari keadaan yang sama sekali tidak mendukung. Siapa saja? terlalu banyak untuk disebutkan . Beberapa di antaranya pernah tertulis di kategori Tokoh Inspiratif. Banyak tulisan dan lagu hebat yang justru lahir saat penulisnya masih di dalam penjara. Banyak orang kaya lahir dari keluarga miskin. Banyak ilmuwan yang dulunya dianggap bodoh atau gila, bahkan Thomas A. Edison pun pernah ditolak masuk SD karena dianggap idiot. Saat keadaan berkecamuk karena perang dan menjadi pengungsi, Albert Einstein malah dinobatkan menjadi Doktor dan Guru Besar. Bung Karno juga bukan sarjana politik, beliau adalah insinyur, dalam keadaan terbuang di Bengkulu, beliau malah merancang beberapa rumah dan merenovasi Masjid Jami’ di tengah kota. Tom Cruise? Ah, dia hanya seorang disleksia yang susah membedakan antara huruf “b” dan “d”. Keadaan bisa membuat berhasil tetapi bisa juga membuat gagal. Yup, Semua tergantung dari bagaimana cara melihat dan menghadapinya..


5. Masa lalu saya hancur
Dalam konteks ini, sepertinya kisah mengenai Oprah Winfrey bisa menutupnya. Yup, orang tuanya bercerai, dan lebih parah lagi, dia pernah diperkosa oleh saudara sepupunya. Tiap orang tahu, mengatasi problem masa lalu memang rumit. Masa lalulah yang membentuk diri dan menentukan bagaimana sifat dan sikap seorang manusia. Tetapi, itu “hanya film”.. yah, film! cukup untuk dilihat dan diikuti ceritanya, bisa dijadikan inspirasi atau motivasi hidup (kalo perlu), atau bisa juga dijadikan ‘hobi’ saat senggang. Tetapi, film hanya film.. berbeda dengan kenyataan sekarang.
Ia hanya dokumentasi sejarah dan tidak ada yang bisa dirubah. Kenapa harus ngotot pada sesuatu yang sudah tidak bisa dirubah? Lebih baik jika menyutradarai “film baru” yang ceritanya bisa dirubah seperti yang diinginkan.. saya biasa menyebut film baru tersebut: “Masa Depan“.


6. Saya tidak punya kesempatan
Hmm.. setahu saya setiap orang diberi waktu yang sama setiap harinya: 24 jam. Kenapa hasilnya bisa lain? Yup, setiap orang menggunakannya dengan caranya masing-masing. Memang, setiap orang dianugerahi lingkungan yang berbeda-beda. Ada lingkungan yang memang cukup kondusif untuk maju, tetapi ada juga yang destruktif bagi kemajuan. Tetapi, bukan berarti kesempatan itu tidak ada!
Jika melihat kemiskinan, berarti saya diberi kesempatan untuk mengentaskan kemiskinan. Jika melihat orang tertimpa musibah, berarti saya diberi kesempatan untuk menolong.. sekali lagi, Kesempatan! Ia selalu ada di sekitar saya. “Kesempatan” adalah pemicu kemauan seseorang untuk merubah sesuatu yang gak beres menjadi beres.. sesuatu yang gak baik menjadi baik. “Kesempatan” tidak hanya muncul pada situasi-situasi yang mengenakkan, malah sebaliknya, semakin kritis lingkungan, akan semakin banyak kesempatan yang muncul. Bukankah krisis ekonomi tahun 1998 yang lalu justru malah melahirkan banyak sekali jutawan-jutawan baru? Bukankah mereka yang ‘berhasil’ adalah mereka yang bisa melihat dan memanfaatkan “kesempatan” ini?


7. Saya kurang beruntung
Yup, keberuntungan memang bisa dikatakan sebagai hal yang statis, ia tidak datang begitu saja pada setiap orang. Ia memang seperti anugerah. Jika keberuntungan memang sulit diusahakan, lalu kenapa tidak memintanya kepada Sang Pemberi Anugerah? . Dulu pernah ada penelitian mengenai hal ini. Lengkapnya pernah tertulis di artikel The Luck Factor. Yeah.. di situ terdapat beberapa tips untuk ‘merayu’ Sang Pemberi agar selalu melimpahkan keberuntungan pada umatnya.


8. Saya Takut Sakit Hati lagi
Di twitter, seorang sahabat pernah menulis “Mencintai, memiliki, dan merasa kehilangan adalah satu paket kehidupan yang tidak dapat dipisahkan..”. Selain itu, di blog ini juga pernah ada tulisan Tentang Perpisahan. Yup.. “Kelak, setiap orang pasti akan meninggalkanmu, atau justru kamu yang akan meninggalkan mereka.. “. Sakit hati juga sebuah bagian penting dari proses kehidupan.. bukankah Hati yang sempurna dan bijaksana adalah justru hati yang memiliki banyak bekas luka?


9. Saya khawatir jika hasilnya mengecewakan
Tidak ada satu orang pun yang tidak pernah mengecewakan orang-orang di sekitarnya. Tidak mungkin memiliki banyak teman tanpa memiliki sedikit musuh. Tidak ada karyawan yang sama sekali tidak pernah mengecewakan atasannya. Yang paling penting adalah apa yang harus dilakukan jika ternyata mengecewakan orang lain? yup.. Tiga Kata Ajaib mungkin bisa bisa membantu.. ^^


10. Saya takut salah
Nobody perfect! That’s all.. . Setahu saya.. orang yang takut salah dan takut gagal justru malah lebih banyak berbuat kesalahan. Tidak ada percobaan ilmiah yang tidak pernah gagal. Tidak ada pengusaha sukses yang belum pernah bangkrut, tidak ada peruntung tenar yang belum pernah mengalami kerugian, tidak ada aktivis yang tidak pernah teraniaya, tidak ada tokoh politik yang belum pernah dikritik, dan tidak ada selebritis terkenal yang belum pernah dicacimaki. Yup.. ini adalah “kuat-kuatan”, mereka yang tahan terhadap dampak kesalahan yang pernah dibuat dan tidak pernah berhenti berusaha.. merekalah yang berhasil.. ^^






















Sumber:
http://www.kaskus.co.id/thread/50854fc4ea74b47227000003
http://www.ceritainspirasi.net/


















































Kiat Memilih Jangka Waktu Cicilan KPR

RumahCom — Saat akan mengambil pembiayaan KPR (kredit pemilikan rumah), konsumen dihadapkan pada pilihan: berapa lama jangka waktu cicilan KPR yang akan diambil? Sekilas hal ini terkesan sepele, namun bila tidak ditimbang masak-masak, akan menjadi masalah di kemudian hari, seperti menunggak cicilan.
Sebenarnya, jangka waktu mengangsur KPR yang paling realistis dan paling baik adalah sesuai dengan kemampuan keuangan masing-masing. Jika kemampuan keuangan Anda tidak cukup untuk mengambil cicilan KPR dengan tempo 5 tahun, maka pilihlah yang berjangka waktu lebih lama, misalnya 10 tahun atau 15 tahun.
Jika Anda mengambil KPR dari bank konvensional, selalu ada risiko yang menyertai Anda. Pasalnya, suku bunga pinjaman dapat berubah setiap waktu, bergantung kondisi ekonomi nasional. Sebagai contoh, pada 2006 lalu suku bunga KPR melonjak dari 12% menjadi 17%, kemudian menurun sampai 13%-15%. kondisi paling buruk dalam sejarah Indonesia adalah pada 1998 lalu, dimana tingkat bunga KPR melesat sampai lebih dari 30%.
Hal yang tak terduga seperti ini dapat merugikan nasabah. Maka pikirkan dengan bijaksana, apakah Anda sanggup menghadapi situasi ini di masa mendatang atau tidak. Terutama bila Anda berniat mengambil tenor KPR sampai 15 tahun.
Jika ekonomi nasional stabil, dimana gejolak bunga tidak sedahsyat tahun 1998, beberapa perumahan yang bekerja sama dengan perbankan, bahkan berani menyediakan fasilitas KPR dengan bunga fix 10% pada tahun pertama—bahkan ada yang berani memberikan suku bunga fix 9%—baru pada tahun kedua dan seterusnya, suku bunga mengikuti tren suku bunga pasar (floating).
Anto Erawan
(antoerawan@rumah.com)

Sumber:
 http://id.berita.yahoo.com/blogs/rumah/kiat-memilih-jangka-waktu-cicilan-kpr-071007920.html

Saturday, October 27, 2012

Jenis Bidang Usaha/Bisnis Pilihan

Tips Memilah & Memilih Bisnis Yang Efektif Dan Efisien
Secara garis besar jenis bidang usaha/bisnis ditentukan oleh beberapa kriteria, diantaranya :
  1. Jenis produk yang ditawarkan, apakah berupa barang niaga/perdagangan, atau berupa produk jasa.
  2. Sistem distribusinya (Marketing Plan), apakah Konvensional (umum), atau multi level (bertingkat)/network/jaringan/refferal.
  3. Media yang digunakan dalam pendistribusian produk, Offline dengan membuka toko/counter/office/small office secara biasa dan menunggu client, atau online yang biasanya memanfaatkan jalur internet.
  4. Sifat produknya, produk konsumsi, atau non-konsumsi.
Dalam perkembangannya, apapun jenis produk dan sifat produknya, digeneralisasi lagi menjadi 2 kriteria :
  1. Sistem distribusinya: Konvensional, dan network (jaringan) & referral (refferensi).
  2. Media yang digunakan: Offline, dan online.
Perkembangan berikutnya menunjukan bahwa sistem distribusi yang digunakan dan media yang digunakan akan saling melengkapi.
Sebagai contoh:
  • Pulsa online/Kios pulsa on-line
  • Toko buku online, Toko bunga online, Gallery Handycraft Online
  • Kursus online, Iklan on-line
  • Multi Level (MLM) & Viral Marketing, baik offline maupun online
  • Sistem penjualan produk/jasa secara referral (refferensi), baik secara offline maupun online.
  • Dan masih banyak contoh lainnya !
Cek Kenyataan 1
Banyak orang yang memilih bisnis jaringan/network & referral (refferensi) baik secara offline maupun online untuk mendapatkan atau menambah penghasilan dengan pertimbangan :
  • Tidak menggangu pekerjaan/usaha utama.
  • Bisa dikerjakan sambil melakukan aktivitas lain, dan bisa mengatur jam kerja sendiri.
  • Fleksibel, karena bisa dikerjakan kapanpun dan dimanapun. Selain itu, biasanya bisa digabungkan dengan bisnis/usaha yang telah dimiliki.
  • Tidak terlalu membutuhkan modal yang terlalu besar tapi bisa memiliki omzet yang besar.
  • Tingkat pengembalian modal/BEP yang (relatif) lebih singkat dibanding sistem konvensional/umum.
  • Penghasilan yang bersifat akumulatif.
  • Bisnis & penghasilan yang bisa diwariskan.
  • Dengan kecanggihan teknologi internet yang on-line, penyebaran informasi dalam memasarkan produk/jasa akan lebih cepat, efektif, dan efisien.
  • Dan lain-lain.
Cek Kenyataan 2
“ Banyak orang yang sukses dalam menjalani bisnis jaringan/network & referral (refferensi), baik offline maupun online. Tapi ternyata…….banyak  juga orang yang gagal ! Bahkan di tempat/perusahaan yang jelas-jelas bonafid dan menggunakan sistem Marketing Plan yang sangat sederhana serta tidak memerlukan modal yang besar sekalipun, masih banyak juga yang gagal !!! “
Penyebab Umum Terjadinya Kegagalan:
1.      Cepat bosan dan terlalu berorientasi pada hasil besar yang INSTANT. Hingga seringkali terlalu cepat berganti bidang bisnis/perusahaan yang dapat menghilangkan FOKUS BISNIS.
2.      Menyepelekan sistem dan tidak mengikuti cara kerja standar yang diberikan oleh perusahaan/pengelola. Karena merasa pintar, maunya pakai cara sendiri.
3.      Mudah menyerah saat mendapat rintangan/hambatan. Padahal inti kesuksesan semua bisnis adalah bertahan saat menerima hambatan/rintangan.
4.      Salah perhitungan, tidak pernah introspeksi/evaluasi menuju perbaikan/inovasi.
5. MALAS : M-A-L-A-S !

Tips Memilih Perusahaan/Pengelola Bisnis
1.      Pilih perusahaan/pengelola yang memiliki kejelasan hukum, kejelasan Marketing Plan, kejelasan sistem pembagian keuntungan/penghasilan, sistem backup yang teruji kredibilitasnya, dan fasilitas full support sistem.
2.      Pelajari Company Profile/Profil pengelola, pengalaman, visi & misi yang dimiliki. Jangan sekali-kali HANYA MELIHAT HASIL AKHIR YANG BESAR, tanpa Anda tahu apakah PROSES pencapaiannya terukur dan sebanding dengan apa yang harus dikorbankan!
3.      BACA & PELAJARI peraturan-peraturan, perjanjian-perjanjian, dan ATURAN MAIN yang dikeluarkan oleh perusahaan/pengelola (TERM & CONDITIONS).
Tips Memilih Bidang Usaha/Bisnis
1.      Tidak perlu takut mengambil keputusan dalam berbisnis yang RESIKO-nya telah Anda ketahui. Takut mengambil keputusan, berarti takut untuk berbisnis. Terlalu takut mengambil resiko dalam berbisnis, Anda tidak akan pernah sukses menjalani bisnis. Hargai diri Anda sesuai dengan potensi yang Anda miliki dan NILAI KEHIDUPAN yang ingin Anda miliki.
2.      Ukur resiko bisnis dari bidang pilihan Anda sesuai dengan MINAT, BAKAT, KEMAMPUAN (Modal&Keterampilan), dan SEBERAPA BESAR  PENGHASILAN serta NILAI KEHIDUPAN yang ingin Anda miliki.
3.      Modal kecil belum tentu resikonya kecil. Sebaliknya, modal besar belum tentu resikonya besar. Kemudahan sistem yang ditawarkan harus sebanding dengan hasil yang akan didapat.
4.      Setelah mengetahui resiko bisnisnya, Anda harus tahu POTENSI PASAR (MARKET) dari produk/jasa yang ditawarkan. Produk/jasa yang sedang tren, belum tentu membuat Anda sukses. Yang paling penting untuk dipertimbangkan adalah: Jumlah/persentase (%) kebutuhan pasar (baca: masyarakat), masa/lamanya waktu penggunaan produk barang/jasa tersebut, siapa saja yang menggunakan/membutuhkan (segmentasi), dan penyusutan NILAI produk barang/jasa yang ditawarkan dalam beberapa waktu ke depan.
5.      JANGAN PERNAH BERHENTI UNTUK BELAJAR DAN MEMPELAJARI HAL-HAL BARU YANG MENDUKUNG BIDANG BISNIS PILIHAN ANDA !
6.      Tidak perlu malu bertanya dan mencari tahu tentang informasi yang Anda butuhkan.
7.      Tidak perlu malu untuk meminta DUKUNGAN & BANTUAN dari pihak lain !
Semoga artikel ini berguna bagi kita semua.
Bila Anda sudah memiliki bidang bisnis pilihan, kami mengucapkan selamat berbisnis dan semoga SUKSES!

Ade  Supriyatna
http://www.wirausaha-online.com/2011/02/jenis-bidang-usaha-bisnis-pilihan/

13 Hal yang Dirahasiakan SDM

By Reader's Digest Magazine

1. "Setelah Anda menganggur lebih dari enam bulan, Anda akan dianggap sulit diterima bekerja. Kami berasumsi bahwa orang lain lebih berpeluang dari Anda, sehingga kami pun tidak mau berurusan dengan Anda." -Cynthia Shapiro, mantan eksekutif divisi SDM.

2. "Dalam hal mengenai mencari pekerjaan, orang yang Anda kenal akan sangat berpengaruh. Tidak peduli seberapa bagus CV Anda atau seberapa hebat pengalaman Anda, semuanya sangat bergantung pada koneksi." -Direktur SDM di fasilitas kesehatan.

3. "Jika Anda mencoba mendapatkan pekerjaan di sebuah perusahaan tertentu, sering kali hal terbaik untuk dilakukan adalah untuk menghindari bagian SDM sepenuhnya. Carilah seseorang di perusahaan tersebut yang Anda kenal, atau hubungi langsung manajer rekrutmen." -Shauna Moerke, administrator SDM di Alabama.

4. "Orang mengira seseorang akan membaca surat lamaran mereka. Saya belum pernah membaca satu pun surat lamaran dalam 11 tahun." -Direktur SDM di sebuah perusahaan jasa keuangan.

5. "Kami akan menilai Anda berdasarkan alamat email Anda. Terutama jika nama alamat email tersebut merupakan sesuatu yang tidak pantas seperti kinkyboots101@hotmail.com atau johnnylikestodrink@gmail.com." -Rich DeMatteo, konsultan rekrutmen di Philadelphia

6. "Jika Anda berusia 50-an atau 60-an tahun, jangan menuliskan tahun kelulusan Anda pada CV." -SDM profesional sebuah perusahaan menengah di North Carolina.

7. "Ada mitos bahwa CV harus terdiri dari satu halaman saja. Sehingga banyak orang yang mengirimkan resume mereka dalam format tulisan yang kecil. Tidak ada yang akan membacanya." -Direktur SDM di sebuah perusahaan jasa keuangan.

8. "Saya selalu membaca resume dari bawah ke atas Dan saya tidak punya masalah dengan resume yang terdiri dari dua halaman, tapi tiga halaman terlalu banyak." -Sharlyn Lauby, konsultan personalia di Florida.

9. "Kebanyakan dari kita menggunakan sistem pelacakan para pemohon yang memindai resume berdasarkan kata kuncinya. Rahasia agar resume Anda terjaring oleh sistem tersebut adalah dengan mengambil kata-kata kunci langsung dari deskripsi pekerjaan dan sertakan ke dalam resume. Semakin kata kunci yang cocok, maka akan semakin besar kemungkinan resume Anda akan terpilih dan dapat dilihat oleh petugas perekrutan. " -Chris Ferdinandi, profesional personalia di wilayah Boston.

10. "Resume tidak perlu diberi warna untuk terlihat menonjol. Ketika saya melihat sedikit warna, saya menyeringai. Dan ketika saya melihat begitu banyak warna, saya merasa ngeri. Saya akan membuangnya dan resume Anda pun tidak akan dilihat lagi sebagai sesuatu yang baik. Itu sebenarnya sedikit menyeramkan. " -Rich DeMatteo
11. "Sangat mengejutkan ketika orang  datang untuk wawancara dan berkata, 'Bisakah Anda ceritakan tentang pekerjaan di sini?" Yang benar saja. Ada yang namanya internet. Carilah di sana. " -Profesional personalia di New York City.

12. "Banyak manajer tidak ingin mempekerjakan orang yang memiliki anak kecil, dan mereka menggunakan segala macam trik untuk mengetahui hal itu, secara ilegal. Ada personalia yang menyimpan foto dua anak yang lucu di mejanya meskipun ia tidak memiliki anak (berharap calon karyawan akan bertanya tentang mereka). Sementara yang lain biasanya mengantar calon pegawainya berjalan menuju mobilnya untuk mencari tahu apakah mereka memiliki kursi mobil anak-anak." -Cynthia Shapiro

13. "Apakah akan lebih sulit untuk mendapatkan pekerjaan jika Anda gemuk? Tentu saja. Para manajer rekrutmen membuat penilaian dengan cepat berdasarkan stereotipe. Para manajer tersebut hanya mengikuti karakter George Clooney di film  “Up in the Air”, yang mengatakan 'Aku seorang yang melakukan stereotipe. Itu lebih cepat.'" -Suzanne Lucas, seorang mantan eksekutif personalia.


 http://id.she.yahoo.com/13-hal-yang-dirahasiakan-sdm.html

Wednesday, September 26, 2012

Peter Firmansyah: Lewat Petersaysdenim Menembus Dunia

Sewaktu masih duduk di bangku SMA, Peter Firmansyah, pria kelahiran Sumedang 4 Februari 1984, terbiasa mengubek-ubek tumpukan baju di pedagang kaki lima. Kini, ia adalah pemilik usaha yang memproduksi busana yang sudah diekspor ke beberapa negara.

Tak butuh waktu relatif lama. Semua itu mampu dicapai Peter hanya dalam waktu 1,5 tahun sejak ia membuka usahanya pada November 2008. Kini, jins, kaus, dan topi yang menggunakan merek Petersaysdenim, bahkan, dikenakan para personel kelompok musik di luar negeri.

Sejumlah kelompok musik itu seperti Of Mice & Man, We Shot The Moon, dan Before Their Eyes, dari Amerika Serikat, I am Committing A Sin, dan Silverstein dari Kanada, serta Not Called Jinx dari Jerman sudah mengenal produksi Peter. Para personel kelompok musik itu bertubi-tubi menyampaikan pujiannya dalam situs Petersaysdenim.

Pada situs-situs internet kelompok musik itu, label Petersaysdenim juga tercantum sebagai sponsor. Petersaysdenim pun bersanding dengan merek-merek kelas dunia yang menjadi sponsor, seperti Gibson, Fender, Peavey, dan Macbeth.

Peter memasang harga jins mulai Rp 385.000, topi mulai Rp 200.000, tas mulai Rp 235.000, dan kaus mulai Rp 200.000. Hasrat Peter terhadap busana bermutu tumbuh saat ia masih SMA. Peter yang lalu menjadi pegawai toko pada tahun 2003 kenal dengan banyak konsumennya dari kalangan berada dan sering kumpul-kumpul. Ia kerap melihat teman-temannya mengenakan busana mahal.

”Saya hanya bisa menahan keinginan punya baju bagus. Mereka juga sering ke kelab, mabuk, dan ngebut pakai mobil, tapi saya tidak ikutan. Lagi pula, duit dari mana,” ujarnya.

Peter melihat, mereka tampak bangga, bahkan sombong dengan baju, celana, dan sepatu yang mereka dipakai. Harga celana jins saja, misalnya, bisa Rp 3 juta. ”Perasaan bangga seperti itulah yang ingin saya munculkan kalau konsumen mengenakan busana produk saya,” ujarnya.

Peter kecil akrab dengan kemiskinan. Sewaktu masih kanak-kanak, perusahaan tempat ayahnya bekerja bangkrut sehingga ayahnya harus bekerja serabutan. Peter pun mengalami masa suram. Orangtuanya harus berutang untuk membeli makanan.

Pernah mereka tak mampu membeli beras sehingga keluarga Peter hanya bergantung pada belas kasihan kerabatnya. ”Waktu itu kondisi ekonomi keluarga sangat sulit. Saya masih duduk di bangku SMP Al Ma’soem, Kabupaten Bandung,” kata Peter.

Sewaktu masih SMA, Peter terbiasa pergi ke kawasan perdagangan pakaian di Cibadak, yang oleh warga Bandung di pelesetkan sebagai Cimol alias Cibadak Mall, Bandung. Di kawasan itu dia berupaya mendapatkan produk bermerek, tetapi murah. Cimol saat ini sudah tidak ada lagi. Dulu terkenal sebagai tempat menjajakan busana yang dijual dalam tumpukan.

Selepas SMA, ia melanjutkan pendidikan ke Universitas Widyatama, Bandung. Namun, biaya masuk perguruan tinggi dirasakan sangat berat, hingga Rp 5 juta. Uang itu pemberian kakeknya sebelum wafat. Tetapi, tak sampai sebulan Peter memutuskan keluar karena kekurangan biaya. Ia berselisih dengan orangtuanya—perselisihan yang sempat disesali Peter—karena sudah menghabiskan biaya besar.
Ia benar-benar memulai usahanya dari nol. Pendapatan selama menjadi pegawai toko disisihkan untuk mengumpulkan modal. Di sela-sela pekerjaannya, ia juga mengerjakan pesanan membuat busana. Dalam sebulan, Peter rata-rata membuat 100 potong jaket, sweter, atau kaus. Keuntungan yang diperoleh antara Rp 10.000- Rp 20.000 per potong.

”Gaji saya hanya sekitar Rp 1 juta per bulan, tetapi hasil dari pekerjaan sampingan bisa mencapai Rp 2 juta, he-he-he…,” kata Peter. Penghasilan sampingan itu ia dapatkan selama dua tahun waktu menjadi pegawai toko hingga 2005.

Pengalaman pahit juga pernah dialami Peter. Pada tahun 2008, misalnya, ia pernah ditipu temannya sendiri yang menyanggupi mengerjakan pesanan senilai Rp 14 juta. Pesanannya tak dikerjakan, sementara uang muka Rp 7 juta dibawa kabur. Pada 2007, Peter juga mengerjakan pesanan jins senilai Rp 30 juta, tetapi pemesan menolak membayar dengan alasan jins itu tak sesuai keinginannya.
”Akhirnya saya terpaksa nombok. Jins dijual murah daripada tidak jadi apa-apa. Tetapi, saya berusaha untuk tidak patah semangat,” ujarnya.
Belajar menjahit, memotong, dan membuat desain juga dilakukan sendiri. Sewaktu masih sekolah di SMA Negeri 1 Cicalengka, Kabupaten Bandung, Peter juga sempat belajar menyablon. Ia berprinsip, siapa pun yang tahu cara membuat pakaian bisa dijadikan guru.

”Saya banyak belajar sejak lima tahun lalu saat sering keliling ke toko, pabrik, atau penjahit,” katanya. Ia juga banyak bertanya cara mengirim produk ke luar negeri. Proses ekspor dipelajari sendiri dengan bertanya ke agen-agen pengiriman paket.

Sejak 2007, Peter sudah sanggup membiayai pendidikan tiga adiknya. Seorang di antaranya sudah lulus dari perguruan tinggi dan bekerja. Peter bertekad mendorong dua adiknya yang lain untuk menyelesaikan pendidikan jenjang sarjana. Ia, bahkan, bisa membelikan mobil untuk orangtuanya dan merenovasi rumah mereka di Jalan Padasuka, Bandung.

”Kerja keras dan doa orangtua, kedua faktor itulah yang mendorong saya bisa sukses. Saya memang ingin membuat senang orangtua,” katanya. Jika dananya sudah mencukupi, ia ingin orangtuanya juga bisa menunaikan ibadah haji.

Meski kuliahnya tak rampung, Peter kini sering mengisi seminar-seminar di kampus. Ia ingin memberikan semangat kepada mereka yang berniat membuka usaha. ”Mau anak kuli, buruh, atau petani, kalau punya keinginan dan bekerja keras, pasti ada jalan seperti saya menjalankan usaha ini,” ujarnya.

Merek Petersaysdenim berasal dari Peter Says Sorry, nama kelompok musik. Posisi Peter dalam kelompok musik itu sebagai vokalis. ”Saya sebenarnya bingung mencari nama. Ya, sudah karena saya menjual produk denim, nama mereknya jadi Petersaysdenim,” ujarnya tertawa.

Peter memanfaatkan fungsi jejaring sosial di internet, seperti Facebook, Twitter, dan surat elektronik untuk promosi dan berkomunikasi dengan pengguna Petersaysdenim. ”Juli nanti saya rencana mau ke Kanada untuk bisnis. Teman-teman musisi di sana mau ketemu,” katanya.

Akan tetapi, ajakan bertemu itu baru dipenuhi jika urusan bisnis selesai. Ajakan itu juga bukan main-main karena Peter diperbolehkan ikut berkeliling tur dengan bus khusus mereka. Personel kelompok musik lainnya menuturkan, jika sempat berkunjung ke Indonesia ia sangat ingin bertemu Peter. Ia melebarkan sayap bisnis untuk memperlihatkan eksistensi Petersaysdenim terhadap konsumen asing.

”Pokoknya, saya mau ’menjajah’ negara-negara lain. Saya ingin tunjukkan bahwa Indonesia, khususnya Bandung, punya produk berkualitas,” ujarnya.

Sumber: Kompas
Untuk kontak, buka situsnya di petersaysdenim

Taken From:
http://indonesiaproud.wordpress.com/2010/04/26/peter-firmansyah-lewat-petersaysdenim-menembus-dunia/