Friday, January 4, 2013

Kiat Memilih Jangka Waktu Cicilan KPR

RumahCom — Saat akan mengambil pembiayaan KPR (kredit pemilikan rumah), konsumen dihadapkan pada pilihan: berapa lama jangka waktu cicilan KPR yang akan diambil? Sekilas hal ini terkesan sepele, namun bila tidak ditimbang masak-masak, akan menjadi masalah di kemudian hari, seperti menunggak cicilan.
Sebenarnya, jangka waktu mengangsur KPR yang paling realistis dan paling baik adalah sesuai dengan kemampuan keuangan masing-masing. Jika kemampuan keuangan Anda tidak cukup untuk mengambil cicilan KPR dengan tempo 5 tahun, maka pilihlah yang berjangka waktu lebih lama, misalnya 10 tahun atau 15 tahun.
Jika Anda mengambil KPR dari bank konvensional, selalu ada risiko yang menyertai Anda. Pasalnya, suku bunga pinjaman dapat berubah setiap waktu, bergantung kondisi ekonomi nasional. Sebagai contoh, pada 2006 lalu suku bunga KPR melonjak dari 12% menjadi 17%, kemudian menurun sampai 13%-15%. kondisi paling buruk dalam sejarah Indonesia adalah pada 1998 lalu, dimana tingkat bunga KPR melesat sampai lebih dari 30%.
Hal yang tak terduga seperti ini dapat merugikan nasabah. Maka pikirkan dengan bijaksana, apakah Anda sanggup menghadapi situasi ini di masa mendatang atau tidak. Terutama bila Anda berniat mengambil tenor KPR sampai 15 tahun.
Jika ekonomi nasional stabil, dimana gejolak bunga tidak sedahsyat tahun 1998, beberapa perumahan yang bekerja sama dengan perbankan, bahkan berani menyediakan fasilitas KPR dengan bunga fix 10% pada tahun pertama—bahkan ada yang berani memberikan suku bunga fix 9%—baru pada tahun kedua dan seterusnya, suku bunga mengikuti tren suku bunga pasar (floating).
Anto Erawan
(antoerawan@rumah.com)

Sumber:
 http://id.berita.yahoo.com/blogs/rumah/kiat-memilih-jangka-waktu-cicilan-kpr-071007920.html

Saturday, October 27, 2012

Jenis Bidang Usaha/Bisnis Pilihan

Tips Memilah & Memilih Bisnis Yang Efektif Dan Efisien
Secara garis besar jenis bidang usaha/bisnis ditentukan oleh beberapa kriteria, diantaranya :
  1. Jenis produk yang ditawarkan, apakah berupa barang niaga/perdagangan, atau berupa produk jasa.
  2. Sistem distribusinya (Marketing Plan), apakah Konvensional (umum), atau multi level (bertingkat)/network/jaringan/refferal.
  3. Media yang digunakan dalam pendistribusian produk, Offline dengan membuka toko/counter/office/small office secara biasa dan menunggu client, atau online yang biasanya memanfaatkan jalur internet.
  4. Sifat produknya, produk konsumsi, atau non-konsumsi.
Dalam perkembangannya, apapun jenis produk dan sifat produknya, digeneralisasi lagi menjadi 2 kriteria :
  1. Sistem distribusinya: Konvensional, dan network (jaringan) & referral (refferensi).
  2. Media yang digunakan: Offline, dan online.
Perkembangan berikutnya menunjukan bahwa sistem distribusi yang digunakan dan media yang digunakan akan saling melengkapi.
Sebagai contoh:
  • Pulsa online/Kios pulsa on-line
  • Toko buku online, Toko bunga online, Gallery Handycraft Online
  • Kursus online, Iklan on-line
  • Multi Level (MLM) & Viral Marketing, baik offline maupun online
  • Sistem penjualan produk/jasa secara referral (refferensi), baik secara offline maupun online.
  • Dan masih banyak contoh lainnya !
Cek Kenyataan 1
Banyak orang yang memilih bisnis jaringan/network & referral (refferensi) baik secara offline maupun online untuk mendapatkan atau menambah penghasilan dengan pertimbangan :
  • Tidak menggangu pekerjaan/usaha utama.
  • Bisa dikerjakan sambil melakukan aktivitas lain, dan bisa mengatur jam kerja sendiri.
  • Fleksibel, karena bisa dikerjakan kapanpun dan dimanapun. Selain itu, biasanya bisa digabungkan dengan bisnis/usaha yang telah dimiliki.
  • Tidak terlalu membutuhkan modal yang terlalu besar tapi bisa memiliki omzet yang besar.
  • Tingkat pengembalian modal/BEP yang (relatif) lebih singkat dibanding sistem konvensional/umum.
  • Penghasilan yang bersifat akumulatif.
  • Bisnis & penghasilan yang bisa diwariskan.
  • Dengan kecanggihan teknologi internet yang on-line, penyebaran informasi dalam memasarkan produk/jasa akan lebih cepat, efektif, dan efisien.
  • Dan lain-lain.
Cek Kenyataan 2
“ Banyak orang yang sukses dalam menjalani bisnis jaringan/network & referral (refferensi), baik offline maupun online. Tapi ternyata…….banyak  juga orang yang gagal ! Bahkan di tempat/perusahaan yang jelas-jelas bonafid dan menggunakan sistem Marketing Plan yang sangat sederhana serta tidak memerlukan modal yang besar sekalipun, masih banyak juga yang gagal !!! “
Penyebab Umum Terjadinya Kegagalan:
1.      Cepat bosan dan terlalu berorientasi pada hasil besar yang INSTANT. Hingga seringkali terlalu cepat berganti bidang bisnis/perusahaan yang dapat menghilangkan FOKUS BISNIS.
2.      Menyepelekan sistem dan tidak mengikuti cara kerja standar yang diberikan oleh perusahaan/pengelola. Karena merasa pintar, maunya pakai cara sendiri.
3.      Mudah menyerah saat mendapat rintangan/hambatan. Padahal inti kesuksesan semua bisnis adalah bertahan saat menerima hambatan/rintangan.
4.      Salah perhitungan, tidak pernah introspeksi/evaluasi menuju perbaikan/inovasi.
5. MALAS : M-A-L-A-S !

Tips Memilih Perusahaan/Pengelola Bisnis
1.      Pilih perusahaan/pengelola yang memiliki kejelasan hukum, kejelasan Marketing Plan, kejelasan sistem pembagian keuntungan/penghasilan, sistem backup yang teruji kredibilitasnya, dan fasilitas full support sistem.
2.      Pelajari Company Profile/Profil pengelola, pengalaman, visi & misi yang dimiliki. Jangan sekali-kali HANYA MELIHAT HASIL AKHIR YANG BESAR, tanpa Anda tahu apakah PROSES pencapaiannya terukur dan sebanding dengan apa yang harus dikorbankan!
3.      BACA & PELAJARI peraturan-peraturan, perjanjian-perjanjian, dan ATURAN MAIN yang dikeluarkan oleh perusahaan/pengelola (TERM & CONDITIONS).
Tips Memilih Bidang Usaha/Bisnis
1.      Tidak perlu takut mengambil keputusan dalam berbisnis yang RESIKO-nya telah Anda ketahui. Takut mengambil keputusan, berarti takut untuk berbisnis. Terlalu takut mengambil resiko dalam berbisnis, Anda tidak akan pernah sukses menjalani bisnis. Hargai diri Anda sesuai dengan potensi yang Anda miliki dan NILAI KEHIDUPAN yang ingin Anda miliki.
2.      Ukur resiko bisnis dari bidang pilihan Anda sesuai dengan MINAT, BAKAT, KEMAMPUAN (Modal&Keterampilan), dan SEBERAPA BESAR  PENGHASILAN serta NILAI KEHIDUPAN yang ingin Anda miliki.
3.      Modal kecil belum tentu resikonya kecil. Sebaliknya, modal besar belum tentu resikonya besar. Kemudahan sistem yang ditawarkan harus sebanding dengan hasil yang akan didapat.
4.      Setelah mengetahui resiko bisnisnya, Anda harus tahu POTENSI PASAR (MARKET) dari produk/jasa yang ditawarkan. Produk/jasa yang sedang tren, belum tentu membuat Anda sukses. Yang paling penting untuk dipertimbangkan adalah: Jumlah/persentase (%) kebutuhan pasar (baca: masyarakat), masa/lamanya waktu penggunaan produk barang/jasa tersebut, siapa saja yang menggunakan/membutuhkan (segmentasi), dan penyusutan NILAI produk barang/jasa yang ditawarkan dalam beberapa waktu ke depan.
5.      JANGAN PERNAH BERHENTI UNTUK BELAJAR DAN MEMPELAJARI HAL-HAL BARU YANG MENDUKUNG BIDANG BISNIS PILIHAN ANDA !
6.      Tidak perlu malu bertanya dan mencari tahu tentang informasi yang Anda butuhkan.
7.      Tidak perlu malu untuk meminta DUKUNGAN & BANTUAN dari pihak lain !
Semoga artikel ini berguna bagi kita semua.
Bila Anda sudah memiliki bidang bisnis pilihan, kami mengucapkan selamat berbisnis dan semoga SUKSES!

Ade  Supriyatna
http://www.wirausaha-online.com/2011/02/jenis-bidang-usaha-bisnis-pilihan/

13 Hal yang Dirahasiakan SDM

By Reader's Digest Magazine

1. "Setelah Anda menganggur lebih dari enam bulan, Anda akan dianggap sulit diterima bekerja. Kami berasumsi bahwa orang lain lebih berpeluang dari Anda, sehingga kami pun tidak mau berurusan dengan Anda." -Cynthia Shapiro, mantan eksekutif divisi SDM.

2. "Dalam hal mengenai mencari pekerjaan, orang yang Anda kenal akan sangat berpengaruh. Tidak peduli seberapa bagus CV Anda atau seberapa hebat pengalaman Anda, semuanya sangat bergantung pada koneksi." -Direktur SDM di fasilitas kesehatan.

3. "Jika Anda mencoba mendapatkan pekerjaan di sebuah perusahaan tertentu, sering kali hal terbaik untuk dilakukan adalah untuk menghindari bagian SDM sepenuhnya. Carilah seseorang di perusahaan tersebut yang Anda kenal, atau hubungi langsung manajer rekrutmen." -Shauna Moerke, administrator SDM di Alabama.

4. "Orang mengira seseorang akan membaca surat lamaran mereka. Saya belum pernah membaca satu pun surat lamaran dalam 11 tahun." -Direktur SDM di sebuah perusahaan jasa keuangan.

5. "Kami akan menilai Anda berdasarkan alamat email Anda. Terutama jika nama alamat email tersebut merupakan sesuatu yang tidak pantas seperti kinkyboots101@hotmail.com atau johnnylikestodrink@gmail.com." -Rich DeMatteo, konsultan rekrutmen di Philadelphia

6. "Jika Anda berusia 50-an atau 60-an tahun, jangan menuliskan tahun kelulusan Anda pada CV." -SDM profesional sebuah perusahaan menengah di North Carolina.

7. "Ada mitos bahwa CV harus terdiri dari satu halaman saja. Sehingga banyak orang yang mengirimkan resume mereka dalam format tulisan yang kecil. Tidak ada yang akan membacanya." -Direktur SDM di sebuah perusahaan jasa keuangan.

8. "Saya selalu membaca resume dari bawah ke atas Dan saya tidak punya masalah dengan resume yang terdiri dari dua halaman, tapi tiga halaman terlalu banyak." -Sharlyn Lauby, konsultan personalia di Florida.

9. "Kebanyakan dari kita menggunakan sistem pelacakan para pemohon yang memindai resume berdasarkan kata kuncinya. Rahasia agar resume Anda terjaring oleh sistem tersebut adalah dengan mengambil kata-kata kunci langsung dari deskripsi pekerjaan dan sertakan ke dalam resume. Semakin kata kunci yang cocok, maka akan semakin besar kemungkinan resume Anda akan terpilih dan dapat dilihat oleh petugas perekrutan. " -Chris Ferdinandi, profesional personalia di wilayah Boston.

10. "Resume tidak perlu diberi warna untuk terlihat menonjol. Ketika saya melihat sedikit warna, saya menyeringai. Dan ketika saya melihat begitu banyak warna, saya merasa ngeri. Saya akan membuangnya dan resume Anda pun tidak akan dilihat lagi sebagai sesuatu yang baik. Itu sebenarnya sedikit menyeramkan. " -Rich DeMatteo
11. "Sangat mengejutkan ketika orang  datang untuk wawancara dan berkata, 'Bisakah Anda ceritakan tentang pekerjaan di sini?" Yang benar saja. Ada yang namanya internet. Carilah di sana. " -Profesional personalia di New York City.

12. "Banyak manajer tidak ingin mempekerjakan orang yang memiliki anak kecil, dan mereka menggunakan segala macam trik untuk mengetahui hal itu, secara ilegal. Ada personalia yang menyimpan foto dua anak yang lucu di mejanya meskipun ia tidak memiliki anak (berharap calon karyawan akan bertanya tentang mereka). Sementara yang lain biasanya mengantar calon pegawainya berjalan menuju mobilnya untuk mencari tahu apakah mereka memiliki kursi mobil anak-anak." -Cynthia Shapiro

13. "Apakah akan lebih sulit untuk mendapatkan pekerjaan jika Anda gemuk? Tentu saja. Para manajer rekrutmen membuat penilaian dengan cepat berdasarkan stereotipe. Para manajer tersebut hanya mengikuti karakter George Clooney di film  “Up in the Air”, yang mengatakan 'Aku seorang yang melakukan stereotipe. Itu lebih cepat.'" -Suzanne Lucas, seorang mantan eksekutif personalia.


 http://id.she.yahoo.com/13-hal-yang-dirahasiakan-sdm.html

Wednesday, September 26, 2012

Peter Firmansyah: Lewat Petersaysdenim Menembus Dunia

Sewaktu masih duduk di bangku SMA, Peter Firmansyah, pria kelahiran Sumedang 4 Februari 1984, terbiasa mengubek-ubek tumpukan baju di pedagang kaki lima. Kini, ia adalah pemilik usaha yang memproduksi busana yang sudah diekspor ke beberapa negara.

Tak butuh waktu relatif lama. Semua itu mampu dicapai Peter hanya dalam waktu 1,5 tahun sejak ia membuka usahanya pada November 2008. Kini, jins, kaus, dan topi yang menggunakan merek Petersaysdenim, bahkan, dikenakan para personel kelompok musik di luar negeri.

Sejumlah kelompok musik itu seperti Of Mice & Man, We Shot The Moon, dan Before Their Eyes, dari Amerika Serikat, I am Committing A Sin, dan Silverstein dari Kanada, serta Not Called Jinx dari Jerman sudah mengenal produksi Peter. Para personel kelompok musik itu bertubi-tubi menyampaikan pujiannya dalam situs Petersaysdenim.

Pada situs-situs internet kelompok musik itu, label Petersaysdenim juga tercantum sebagai sponsor. Petersaysdenim pun bersanding dengan merek-merek kelas dunia yang menjadi sponsor, seperti Gibson, Fender, Peavey, dan Macbeth.

Peter memasang harga jins mulai Rp 385.000, topi mulai Rp 200.000, tas mulai Rp 235.000, dan kaus mulai Rp 200.000. Hasrat Peter terhadap busana bermutu tumbuh saat ia masih SMA. Peter yang lalu menjadi pegawai toko pada tahun 2003 kenal dengan banyak konsumennya dari kalangan berada dan sering kumpul-kumpul. Ia kerap melihat teman-temannya mengenakan busana mahal.

”Saya hanya bisa menahan keinginan punya baju bagus. Mereka juga sering ke kelab, mabuk, dan ngebut pakai mobil, tapi saya tidak ikutan. Lagi pula, duit dari mana,” ujarnya.

Peter melihat, mereka tampak bangga, bahkan sombong dengan baju, celana, dan sepatu yang mereka dipakai. Harga celana jins saja, misalnya, bisa Rp 3 juta. ”Perasaan bangga seperti itulah yang ingin saya munculkan kalau konsumen mengenakan busana produk saya,” ujarnya.

Peter kecil akrab dengan kemiskinan. Sewaktu masih kanak-kanak, perusahaan tempat ayahnya bekerja bangkrut sehingga ayahnya harus bekerja serabutan. Peter pun mengalami masa suram. Orangtuanya harus berutang untuk membeli makanan.

Pernah mereka tak mampu membeli beras sehingga keluarga Peter hanya bergantung pada belas kasihan kerabatnya. ”Waktu itu kondisi ekonomi keluarga sangat sulit. Saya masih duduk di bangku SMP Al Ma’soem, Kabupaten Bandung,” kata Peter.

Sewaktu masih SMA, Peter terbiasa pergi ke kawasan perdagangan pakaian di Cibadak, yang oleh warga Bandung di pelesetkan sebagai Cimol alias Cibadak Mall, Bandung. Di kawasan itu dia berupaya mendapatkan produk bermerek, tetapi murah. Cimol saat ini sudah tidak ada lagi. Dulu terkenal sebagai tempat menjajakan busana yang dijual dalam tumpukan.

Selepas SMA, ia melanjutkan pendidikan ke Universitas Widyatama, Bandung. Namun, biaya masuk perguruan tinggi dirasakan sangat berat, hingga Rp 5 juta. Uang itu pemberian kakeknya sebelum wafat. Tetapi, tak sampai sebulan Peter memutuskan keluar karena kekurangan biaya. Ia berselisih dengan orangtuanya—perselisihan yang sempat disesali Peter—karena sudah menghabiskan biaya besar.
Ia benar-benar memulai usahanya dari nol. Pendapatan selama menjadi pegawai toko disisihkan untuk mengumpulkan modal. Di sela-sela pekerjaannya, ia juga mengerjakan pesanan membuat busana. Dalam sebulan, Peter rata-rata membuat 100 potong jaket, sweter, atau kaus. Keuntungan yang diperoleh antara Rp 10.000- Rp 20.000 per potong.

”Gaji saya hanya sekitar Rp 1 juta per bulan, tetapi hasil dari pekerjaan sampingan bisa mencapai Rp 2 juta, he-he-he…,” kata Peter. Penghasilan sampingan itu ia dapatkan selama dua tahun waktu menjadi pegawai toko hingga 2005.

Pengalaman pahit juga pernah dialami Peter. Pada tahun 2008, misalnya, ia pernah ditipu temannya sendiri yang menyanggupi mengerjakan pesanan senilai Rp 14 juta. Pesanannya tak dikerjakan, sementara uang muka Rp 7 juta dibawa kabur. Pada 2007, Peter juga mengerjakan pesanan jins senilai Rp 30 juta, tetapi pemesan menolak membayar dengan alasan jins itu tak sesuai keinginannya.
”Akhirnya saya terpaksa nombok. Jins dijual murah daripada tidak jadi apa-apa. Tetapi, saya berusaha untuk tidak patah semangat,” ujarnya.
Belajar menjahit, memotong, dan membuat desain juga dilakukan sendiri. Sewaktu masih sekolah di SMA Negeri 1 Cicalengka, Kabupaten Bandung, Peter juga sempat belajar menyablon. Ia berprinsip, siapa pun yang tahu cara membuat pakaian bisa dijadikan guru.

”Saya banyak belajar sejak lima tahun lalu saat sering keliling ke toko, pabrik, atau penjahit,” katanya. Ia juga banyak bertanya cara mengirim produk ke luar negeri. Proses ekspor dipelajari sendiri dengan bertanya ke agen-agen pengiriman paket.

Sejak 2007, Peter sudah sanggup membiayai pendidikan tiga adiknya. Seorang di antaranya sudah lulus dari perguruan tinggi dan bekerja. Peter bertekad mendorong dua adiknya yang lain untuk menyelesaikan pendidikan jenjang sarjana. Ia, bahkan, bisa membelikan mobil untuk orangtuanya dan merenovasi rumah mereka di Jalan Padasuka, Bandung.

”Kerja keras dan doa orangtua, kedua faktor itulah yang mendorong saya bisa sukses. Saya memang ingin membuat senang orangtua,” katanya. Jika dananya sudah mencukupi, ia ingin orangtuanya juga bisa menunaikan ibadah haji.

Meski kuliahnya tak rampung, Peter kini sering mengisi seminar-seminar di kampus. Ia ingin memberikan semangat kepada mereka yang berniat membuka usaha. ”Mau anak kuli, buruh, atau petani, kalau punya keinginan dan bekerja keras, pasti ada jalan seperti saya menjalankan usaha ini,” ujarnya.

Merek Petersaysdenim berasal dari Peter Says Sorry, nama kelompok musik. Posisi Peter dalam kelompok musik itu sebagai vokalis. ”Saya sebenarnya bingung mencari nama. Ya, sudah karena saya menjual produk denim, nama mereknya jadi Petersaysdenim,” ujarnya tertawa.

Peter memanfaatkan fungsi jejaring sosial di internet, seperti Facebook, Twitter, dan surat elektronik untuk promosi dan berkomunikasi dengan pengguna Petersaysdenim. ”Juli nanti saya rencana mau ke Kanada untuk bisnis. Teman-teman musisi di sana mau ketemu,” katanya.

Akan tetapi, ajakan bertemu itu baru dipenuhi jika urusan bisnis selesai. Ajakan itu juga bukan main-main karena Peter diperbolehkan ikut berkeliling tur dengan bus khusus mereka. Personel kelompok musik lainnya menuturkan, jika sempat berkunjung ke Indonesia ia sangat ingin bertemu Peter. Ia melebarkan sayap bisnis untuk memperlihatkan eksistensi Petersaysdenim terhadap konsumen asing.

”Pokoknya, saya mau ’menjajah’ negara-negara lain. Saya ingin tunjukkan bahwa Indonesia, khususnya Bandung, punya produk berkualitas,” ujarnya.

Sumber: Kompas
Untuk kontak, buka situsnya di petersaysdenim

Taken From:
http://indonesiaproud.wordpress.com/2010/04/26/peter-firmansyah-lewat-petersaysdenim-menembus-dunia/

Wednesday, March 23, 2011

Cigna Financial Literacy Workshop Event By. Hanny

Cigna Financial Literacy Workshop Event By. Hanny






Oh laa laaa..

Bicara soal yang namanya keuangan kayak nya sih ga ada habisnya yah, dari menengah kebawah mau pun menengah ke atas sih sepertinya masih menjadi tantangan tersendiri. Pemikiran ala ala bikin SIM atau Passport pun muncul, kalau bisa suruh orang lain (calo), kenapa harus kerjain sendiri sih?? Hmmm! Well, you (and me) are wrong. Hanya dengan sedikit pemahaman, kesabaran dan perubahan mind set, ternyata mengatur keuangan tidak sesulit yang dibayang kan. Eksekusi nya, however, yang masih perlu kedisiplinan. Haha.

So, saya sendiri adalah orang yang sangat payah dalam mengatur keuangan. Bisa dibilang masih belum dewasa, lah! Maka dari itu saat sekarang telah memiliki anak dan harus memikirkan masa depannya juga, biaya makan harian, belum lagi segala tetek bengek perawatan rumah tangga, mobil dan sebagainya, cukup membuat saya (dan suami) cukup kelimpungan. Bagaimana ya caranya agar bisa menabung? Stres? Sudah pasti. Oleh sebab itu saya sangat bersemangat saat diundang oleh Mommies Daily mengikuti acara dari PT Asuransi Cigna, dimana pada acara ini Cigna mengajak perempuan Indonesia untuk mengatur keuangan keluarga. Financing 101, here we go. ^_^


Menurut survey dari Forbes pada tahun 2010, ternyata perempuan itu memegang 80% dari keputusan keuangan dalam keluarga, dimana 80% nya dalam menentukan kebutuhan konsumsi, 60% nya untuk pembelian mobil, dan 40% nya untuk pembelian saham. Mengetahui hal tersebut, Cigna ingin mengedukasi perempuan-perempuan Indonesia agar dapat memahami apa yang harus dipertimbangkan dalam menentukan perencanaan keuangan demi kehidupan yang lebih sehat, aman dan sejahtera. Hal ini sesuai dengan misi dari Cigna yang telah berpengalaman lebih dari 25 tahun dalam bidang ini.


Pada acara ini juga turut diundang ibu Mike Rini Sutikno, seorang perancang keuangan. Ia menjelaskan apa sih perencanaan keuangan itu. So, here we go (the serious part now!), perencanaan keuangan itu bertujuan untuk mengendalikan keuangan yang terbatas. Oleh karena itu terlebih dahulu kita harus menentukan prioritas, misalnya dana sekolah anak di masa depan, persiapan pensiun, dan lainnya.


Mike Rini Pratikno, CFP


Menurut ibu Mike, kesalahan orang Indonesia dalam mengendalikan keuangan adalah karena kita tidak punya atau tidak bisa menentukan prioritas. Dan selain itu kita juga harus dapat membedakan mana kebutuhan (cicilan rumah, biaya listrik, air, dan sebagainya), mana keinginan (pleasure) dan mana yang bukan termasuk keduanya tapi bersifat darurat dan memerlukan dana  (kecelakaan, bencana alam, jatuh sakit dan lainnya).


Setelah tembakan demi tembakan yang bikin lemes tersebut, peserta diajak untuk bermain Smart Money Game. Agak mirip dengan monopoli konsepnya, tapi ini lebih terasa realistik dan dengan skenario-skenario yang dibuat sedemikian rupa sehingga kita bisa tersenyum lebar saat bisnis kita menghasilkan keuntungan berlipat, atau meringis saat saham kita anjlok atau kena PHK.

The Board Game.
Mirip dengan monopoli kan?! Dengan 4 jenis kartu penentu nasib pemain.

 The Money.
Kaching!!

Here we have to play pretend as well. And my random picked is pediatrician. Ah well.

Ini laporan keuangan yang harus dicatat. Berisi seluruh kegiatan keuangan kita selama bermain.
Look hard, isn't it??



Jadi yang akan kita pelajari dari games ini adalah :

1. Perencanaan Keuangan - monitoring keuangan sendiri.
2. Perlindungan - dengan belajar memahami asuransi jiwa, kesehatan dan harta benda.
3. Pembiayaan - bijaksana dalam memanfaatkan fasilitas pinjaman, cicilan, dan sebagainya.
4. Investasi - obligasi, saham, properti, emas, dll.
5. Ekonomi - inflasi, suku bunga, kinerja pasar modal.
6. Evaluasi - menentukan seberapa bagus kesehatan finansial kita.




Seriously, whoever invented this game is a pure genius. Saya yang tadinya buta total langsung mengerti dasar-dasar sederhana keuangan. And it's fun too. Permainan ini berhasil bila kita sudah memenuhi kriteria-kriteria ini :

1. Pemain dengan rasio penurunan hutang terbesar.
2. Rasio kenaikan aset bersih terbesar.
3. Rasio passive income terbesar.

Hasil-hasil tersebut diatas merupakan tanda nyata keberhasilan kita dalam mengatur perencanaan keuangan. Singkat kata, saat kita berhasil mencapai ketiga nya, maka kita sudah sukses dalam mengatur keuangan. Seperti yang saya kutip dari ibu Mike, "Keberhasilan perencanaan keuangan bukan ditentukan dari banyaknya uang yang dimiliki." Nicely said.

Here are the winners of the game with Julian Mengual, Chief Sales & Marketing Officer di PT Asuransi Cigna Indonesia. Mereka berhasil memenuhi ketiga goal di atas.

Super super thank you to Mommies Daily yang sudah mengajak saya ikut serta dalam acara ini. And thank you Cigna atas edukasi nya, such a wakeup call for spoiled brat like me. Sigh!


Para mommies, nasabah Cigna dan whole Cigna's team. Cheers!!


Pic Courtesy : @mommiesdaily
Source : http://www.thestoryofbipolarcoffeejunkie.com/



Wednesday, February 16, 2011

Layanan Private Banking yang Bonafid

"Layanan Private Banking yang Bonafid"

Layanan Private Banking yang Bonafid
Ibaratnya ruang tunggu penumpang pesawat di bandara, ada ruang tunggu biasa dan tersedia juga ruang tunggu VIP. Ruang tunggu biasa, umumya cukup terdiri dari deretan bangku yang berjejeran, itu saja. Ruang tunggu VIP, tentu saja berbeda. Ruangan yang sejuk, sofa-sofa yang empuk, televisi, makanan kecil nan lezat bahkan tersedia cocktail juga minuman anggur untuk pelepas dahaga, tambahan lagi  dilayani oleh para pamusaji yang cekatan. Semua kemewahan dan pelayanan bonafid ini diberikan untuk kenyamanan penggunanya. Walaupun sama-sama ruang tunggu tetapi keduanya berbeda, yang satu self service dan yang satu lagi fully service atau 1st clas service.

Bank pun sudah menerapkan konsep 1st Class Service ini kepada para nasabah utamanya, dengan kata lain nasabah dalam jumlah saldo rekening yang besar. Mereka adalah tipe nasabah yang tidak lagi berharap hanya sekedar bisa menyimpan uangnya di bank, tetapi juga membutuhkan pelayanan prioritas terhadap semua kebutuhan transaksi keuangannya. Terutama kebutuhan terhadap jasa pengelolaan harta kekayaan atau Wealth Management. Pengelolaan kekayaan menjadi isu yang semakin hari penting, sebab banyak orang berpenghasilan besar dan harta kekayaan yang besar, namun belum tahu bagaimana cara mengoptimalkannya. Kesibukan pekerjaan, terbatasnya waktu, minimnya pengetahuan terhadap produk-produk investasi dan sedikitnya pengalaman dalam berinvestasi, merupakan kendalanya akibatnya seringkali kesempatan mengembangkan harta kekayaan terlewati. Jangan kira punya uang banyak itu mudah, jika didiamkan saja kita bisa merugi, apalagi kalau salah mengelolanya. Bisa-bisa tambah rugi! Untuk nasabah dengan kebutuhan khusus ini Bank menyediakan pelayanan yang khusus pula yaitu Private Banking

Private banking adalah layanan jasa perbankan eksklusif yang memberikan berbagai fasilitas khusus untuk kemudahan dan kenyamanan bertransaksi perbankan sekaligus memberikan jasa konsultasi keuangan dan investasi bagi para nasabahnya. Dengan menjadi nasabah Private Banking, maka bukan saja segala urusan transaksi perbankan Anda dapat dilaksanakan lebih leluasa pada waktu, tempat serta kondisi yang semaksimal mungkin disesuaikan dengan kebutuhan Anda. Lebih dari itu Private Banking juga memberikan jasa perencanaan keuangan juga pengelolaan harta kekayaan secara pribadi.


Apa Bedanya Layanan Private Banking Ini Dibandingkan Layanan Bank Biasa?

Pada layanan bank biasa maka bank yang bersangkutan memberikan fasilitas layanan perbankan yang semua nasabah bisa memakainya, dengan demikian fasilitas ini berlaku masal sehingga seperti layaknya fasilitas umum terkadang Anda harus antri untuk menggunakannya atau menunggu sampai seorang customer service membantu Anda. Pada Private Banking maka para nasabahnya tidak perlu repot –repot antri karena diberikan jalur khusus bebas hambatan untuk melakukan transaksi perbankan, seperti disediakannya teller khusus yang hanya melayani nasabah private banking, ruang tunggu khusus yang eksklusif, tempat parkir khusus, bahkan jika Anda melakukan penarikan uang tunai dalam jumlah besar Anda bisa meminta Private Banking mengantarnya ke tempat Anda.

Ditinjau dari sisi produknya maka pada hakikatnya semua produk perbankan seperti tabungan, deposito, giro maupun produk pinjaman yang ada di Private Banking dengan yang ada di rekening biasa adalah sama saja hanya berbeda di pelayanannya dan negosiasinya. Namun disesuaikan dengan saldo rekening nasabah yang besar maka akses kepada produk-produk investasi juga semakin luas. Karena itu Private Banking juga menawarkan produk-produk investasi yang lebih variatif. Investasi orang-orang kaya, lebih tepatnya begitu.

Fasilitas Layanan Apa Saja Yang Diberikan Private Banking?

Sebagai nasabah yang diprioritaskan Anda berhak mendapat berbagai layanan & fasilitas khusus yang istimewa, antara lain :

- Untuk berbagai kebutuhan traksaksi perbankan, jasa perencana keuangan dan pengelolaan harta kekayaan, telah disedikan staf khusus yang biasa dikenal dengan para Personal Officer, Personal Banker atau Financial Advisor sebagai penasehat dan perencana keuangan.

- pembelian travel cek (TC) atau cek perjalanan tanpa biaya komisi.

- mendapatkan special rate untuk tabungan, deposito bahkan suku bunga pinjaman.

- Dapat melakukan transaksi jual beli mata uang asing berbagai negara dengan nilai kurs yang spesial (harga khusus).

- Bebas biaya administrasi untuk transaksi tertentu atau dengan harga khusus.

- Fasilitas pinjaman atau overdraft hingga 90% dari total deposito Anda.

- Mendapat tempat pelayanan eksklusif berupa ruangan pribadi, teller pribadi, tempat parkir pribadi yang dirancang secara lengkap dan mewah untuk kenyamanan Anda.

- Mendapat fasilitas kartu kredit Gold atau Platinum tanpa harus membayar iuran tahunan selama menjadi nasabah private banking.

- Memperoleh kartu ATM dengan maksimal penarikan maksimal Rp 10,000,000/hari, yang dapat digunakan juga sebagai diskon card di tempat-tempat eksklusif di seluruh dunia.


Siapa sajakah yang bisa menjadi nasabahnya?

Siapa saja bisa menjadi nasabah private banking asal memenuhi persyaratannya. Untuk bisa menjadi nasabahnya maka Anda harus membuka rekening dengan saldo minimal yang jumlahnya tertentu. Saldo minimal yang harus ada pada rekening private biasanya berkisar antara Rp 500 jt s/d Rp 2 milyar. Saldo minimal sebesar itu memang hanya bisa dipenuhi oleh segolongan orang saja. Karena itulah private banking memang sebenarnya ditujukan untuk orang–orang yang memiliki dana menganggur yang besar jumlahnya dan ingin agar dana tersebut lebih produktif. Dalam hal ini private banking dapat berperan sebagai pengelola dana tersebut.

Dalam Hal Apa Sajakah Fasilitas Jasa Konsultasi Keuangan Pada Private Banking dapat digunakan?

Jasa konsultasi keuangan yang dimaksud pada private banking adalah jasa perencanaan keuangan pribadi terutama dalam pengelolaan kekayaan dan investasi. Jadi bagi Anda yang memiliki dana menganggur dan ingin agar dana tersebut bertambah dan beranak pinak tanpa mau repot-repot, maka Anda dapat memberikan kuasa kepada private banking untuk bertindak sebagai pengelola investasi atau fund manager Anda. Sebagai fund manager maka Private banking akan menempatkan sejumlah dana yang Anda percayakan untuk ditempatkan ke produk-produk investasi seperti reksadana, saham, obligasi, SBI, asuransi, dan lain-lainnya sehingga menghasilkan keuntungan untuk Anda.

Dalam hal pengelolaan dana nasabah di rekening Private Banking, Private Banking juga bisa diminta berlaku seperti layaknya fund manager pribadi untuk Anda. Caranya adalah, Anda memberikan kuasa kepada fund manager untuk memutar uang Anda pada produk–produk investasi tertentu dan setiap bulannya Anda akan menikmati pembagian keuntungan sekian persen yang dijanjikan atau tergantung negosiasi. Tetapi jika Anda belum mempercayai kemampuan Private Banking untuk menempatkan dana Anda pada produk-produk investasi sesuai dengan instruksi dari Anda.



Lawan Sifat Konsumtif!

"Lawan Sifat Konsumtif!"

Lawan Sifat Konsumtif!
“Bisakah anda melalui satu hari saja tanpa membeli sesuatu?” Walaupun terdengar aneh, ternyata ada hari peringatan ”Buy Nothing Day” (Hari Tanpa Belanja). Diperingati pada hari Jum’at setelah perayaan “Thanks Giving” di Amerika, biasa disebut “Black Friday”. Ini adalah salah satu dari 10 hari belanja tersibuk sepanjang tahun di Amerika.

Peringatan ini dilansir pertama kali tahun 1992 di Vancouver oleh seniman Ted Dave dan di dukung oleh Adbuster Media Foundation. Tujuannya membahas isu-isu seputar konsumsi yang berlebihan. Pada hari itu orang seharusnya menghabiskan waktu bersama orang yang mereka cintai, bukan cuma menghabiskan uang bersama mereka. Jadi tidak berbelanja selama satu hari akan menggalang kekuatan bersama sebagai protes terhadap ide berbelanja membuat kita bahagia. Hari Tanpa Belanja percaya bahwa konsumtifisme tidak menciptakan kebahagiaan, malah menghancurkannya.

Bahaya Konsumsi Berlebihan

Kelihatannya naif sekali, bahwa segelintir orang sebuah gerakan kecil anti konsumtifisme dapat membawa perubahan besar bagi masyarakat. Konsumtifisme sendiri bisa berarti suatu kecenderungan atau dorongan untuk mengkonsumsi berbagai hal hanya demi memuaskan keinginan berbelanja saja bukan berdasarkan ada tidaknya kebutuhan. Pada dasarnya apa saja yang dilakukan secara berlebihan itu tidak baik. Termasuk dan terutama konsumtifisme yang efeknya sangat berbahaya, karena :

- Mendorong orang memiliki gaya hidup di luar kemampuan finansial mereka. Menghabiskan limit kartu kredit hanya untuk bersaing dengan “tetangga sebelah” menjadi sesuatu yang biasa. Jenis konsumen dengan tipe pembelanjaan seperti inilah yang menjadi tulang punggung perekonomian kita. Pembelanjaan ini berakar dari sebuah teori bahwa komsumsi barang dan jasa adalah cara terbaik mengindikasikan kemakmuran. Sayangnya teori ini justru menggerus tidak hanya individu yang melakukan pembelanjaaan tetapi perekonomian secara keseluruhan.

- Konsumen tidak lagi dianggap sebagai individu melainkan komoditas yang dikategorikan secara demografik. Akibatnya perasaan, keinginan dan berbagai ciri khas individu pun tererosi digantikan dengan keinginan kelompok dan trend yang berlaku. Contoh, lapar bukanlah memasak tetapi makanan cepat saji, haus bukan minum tetapi minuman dalam kemasan, komunikasi bukan lagi bicara tetapi facebook!

- Konsumtifisme memicu materialisme. Kecenderungan orang untuk mengidentifikasi kualitas dan kepuasan hidup dengan kepemilikan benda-benda bukannya kualitas hubungan interpersonal maupun intrapersonal.

Dilema Masyarakat Modern

Seorang teman berargumen bahwa konsumerisme tidak selalu buruk. ”Coba bayangkan dalam kondisi ekstrem orang tidak berbelanja sama sekali. Perusahaan banyak yang tutup, karyawan di PHK, pertumbuhan ekonomi minus.” Walaupun agak menyederhanakan masalah namun masuk akal juga. Konsumerisme sendiri memang tidak buruk, istilah ini mengacu kepada usaha-usaha (individu, instansi pemerintah, organisasi non pemerintah, organisasi non profit misalnya YLKI) untuk menjadi konsumen yang kritis yang tidak hanya memahami hak-haknya sebagai konsumen untuk mendapatkan barang dan jasa yang berkualitas sekaligus menyadari bahwa konsumsi yang berlebihan justru menyangkal hak-hak ini. Sebab konsumtifisme menyebabkan anda membayar lebih mahal dari yang seharusnya, mengutamakan gengsi daripada fungsi, membayar kredit padahal bisa tunai. Ini sangat berbeda dengan konsumsi yang wajar. Orang akan terus mengkonsumsi untuk hidup, makanya perekonomian akan terus bergerak. Namun pertumbuhan ekonomi harus berdasarkan kebutuhan dan kemampuan daya beli riil bukan yang artifisial dari pembiayaan untuk menopang hasrat konsumsi yang berlebihan.

Konsumtifisme menjadi sesuatu hal yang amat dilematis bagi kita. Seharusnya kemajuan peradaban, hadirnya barang-barang mewah, juga berbagai inovasi tehnologi menjadikan kita masyarakat yang lebih baik. Entah mengapa pada saat yang sama malah mendorong konsumsi sumber-sumber daya dan barang-barang dalam jumlah sangat besar jauh melebihi kebutuhan dasar kita. Dimanakah kita bisa menarik batas yang jelas antara kebutuhan dan keinginan?. Dari hari ke hari semakin sulit saja mengendalikan pengeluaran. Orang membeli mobil, pakaian, makanan bahkan menyekolahkan anak ke tempat yang sebenarnya tidak sanggup mereka bayar. Bahkan rela bekerja untuk pekerjaan yang mereka benci asalkan dapat memenuhi gaya hidup yang tidak mampu mereka miliki. 

Ironisnya distribusi konsumsi ini tidak merata, sebab di berbagai belahan bumi lainnya masih terlalu banyak orang yang bahkan untuk kebutuhan hidup untuk seperti sembako dan bahan bakar saja harus mengantri. Nah saat keinginan berbelanja memuncak, bolehlah sesekali anda mengingat mereka yang kekurangan ini.

Ambil Kendali

Konsumsi adalah kewajaran, kita semua membutuhkannya. Konsumtifisme-lah yang harus kita hindari. Jadi bukannya menghentikan pembelanjaan sama sekali (ini tidak mungkin!). Namun bagaimana mengendalikan pembelanjaan tersebut dengan berpatokan pada kebutuhan wajar. Ada 3 cara menghindari konsumtivisme yaitu :

1. Prioritas. Strategi penggunaan uang yang beberapa kali di bahas dalam rubrik ini adalah cara terbaik mengambil kendali keuangan anda. Mulai dari yang pertama menabung , membayar cicilan utang (jika ada), pembayaran asuransi sampai prioritas terakhir pengeluaran biaya hidup. Intinya penghasilan kita tidak boleh dihabiskan begitu saja untuk kebutuhan hidup saat ini, apalagi hanya untuk memenuhi hasrat belanja. Paling tidak harus ada yang dialokasikan untuk tujuan keuangan dana pendidikan anak dan persiapan masa pensiun.

2. Pengendalian. Setelah priroritas ditetapkan, carilah peluang agar bisa menghemat pengeluaran yang sudah direncanakan tadi. Misalnya strategi merubah apa yang anda beli. Barang import bermerek diganti dengan barang lokal dengan kualitas yang sama. Selain lebih ekonomis juga meningkatkan kecintaaan terhadap produk negeri sendiri pastinya membantu pengusaha lokal disini. Kemudian strategi mengubah aktifitas rekreasi. Tidak harus ke mal kan?

3. Pembayaran. Mengapa membayar lebih mahal dengan mencicil jika anda bisa membelinya lebih murah dengan tunai? Anda hanya berhutang jika terpaksa untuk membeli rumah dan kendaraan. Di luar itu bayar semua belanjaan anda secara tunai sesuai penghasilan yang tersisa.